'Komite Eksekutif PSSI Tahu Diri'

'Komite Eksekutif PSSI Tahu Diri'

- Sepakbola
Selasa, 05 Apr 2011 10:31 WIB
Komite Eksekutif PSSI Tahu Diri
Yogyakarta - Terkait dengan pernyataan FIFA, anggota Komite Eksekutif PSSI Subardi mengatakan meski belum menerima surat resmi, pihaknya tahu diri akan posisinya. Exco PSSI tak akan bereaksi dan taat kepada aturan tersebut.

Pernyataan FIFA disampaikan melalui situs resminya, Senin (4/4/2011) malam WIB. "Menyusul kejadian yang berkaitan dengan Federasi Sepakbola Indonesia (PSSI), Komite Darurat FIFA telah memutuskan pada 1 April 2011 bahwa, mengacu pada pasal 7 paragraf 2 pada Statuta FIFA, Komite Normalisasi akan mengambilalih Komite Eksekutif PSSI saat ini," demikian tulis FIFA.

Mengenai hal ini, anggota Komite Eksekutif PSSI Subardi mengatakan bahwa pihaknya baru sebatas mengetahui hal ini dari media dan belum dapat surat resmi dari FIFA. Namun begitu Subardi mengatakan bahwa pernyataan organisasi sepakbola tertinggi di dunia ini harus ditaati.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Diambil alih komite normalisasi. Konsekuensinya komite eksekutif yang sekarang ini demisioner. Komite eksekutif sekarang tidak boleh lagi mengambil keputusan," kata Subardi saat dihubungi detikSport, Selasa (5/4/2011) pagi WIB.

Subardi mengatakan bahwa sejauh ini anggota komite eksekutif belum membahas pernyataan dari FIFA. Namun begitu pria yang sebelumnya masuk "Tim 8" yang bertugas merumuskan peraturan organisasi untuk kongres PSSI tahun ini tersebut mengatakan bahwa Exco PSSI tidak akan bereaksi.

"Kita tunduk asas. Kalau bereaksi itu berarti kan menentang. Kita mesti tahu diri. Untuk apa nekad? PSSI itu untuk pengabdian, nah mengabdi kok ngotot? Kalau sudah tidak ada pengakuan dari otoritas tapi tetap ngotot juga untuk apa? Itu bukan mengabdi tapi obsesi," lugas dia.

Subardi menilai bahwa prinsip dasar dari keputusan tersebut adalah FIFA ingin agar sepakbola Indonesia ke depannya lebih baik. "Saya menyambut baik pernyataan FIFA. Jika untuk kepengurusan masih saja bertikai itu tak baik."

"FIFA ingin menghindarkan pertikaian dan ingin adanya demokrasi sesuai rel. FIFA ingin tak terjadi saling hujat dan salah menyalahkan di proses kongres. Sikap netral itu sangat perlu, karena bila kongres ditangani si A, B, atau C bisa tidak netral."

"FIFA ingin semua segaris, sejalan dengan peraturan dan taat asas hukum yakni statuta FIFA yang berlaku universal di seluruh dunia," lanjutnya.

"Namun itu bukan berarti mengambil alih kewenangan," tutup dia.




(nar/din)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads