Seperti sudah ramai diberitakan, Agum memberhentikan lima anggota KN, yakni Sukawi Sutarip (Pengprov PSSI Jawa Tengah), Siti Nurzanah (Arema), Samsul Ashar (Persik Kediri), H. Satim Sofyan (Pengprov PSSI Banten), dan Dityo Pramono (PSPS Pekanbaru).
"Itu benar-benar langkah yang tidak cerdas. Itu merupakan suatu langkah membungkam perbedaan," ujar pengamat sepakbola Tondo Widodo saat berbincang dengan detikSport, Kamis (12/5/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau tidak sama dengan keinginannya, lalu diganti. Itu tidak demokratis dan otoriter," sahut Tondo yang juga mantan pengurus PSSI tersebut.
Tondo menilai sikap Agum yang pernah mengatakan bahwa anggota KN yang tidak 'Merah Putih' akan dimerahputihkan sama dengan tindakan mantan Presiden Soeharto yang menganggap dirinya sebagai perwujudan Pancasila.
"Ini luar biasa. Agum mempersonalisasikan dirinya sebagai Merah Putih, yang tidak Merah Putih harus dimerahputihkan. Ini mengingatkan zaman Pak Harto. Pak Harto menyamakan dirinya sebagai Pancasila, yang tidak Pancasilais disingkirkan," keluh Tondo.
Agum Membawa-bawa FIFA
Menurut Tondo, alasan Agum bahwa perombakan KN ini adalah atas usulan Direktur Keanggotaan dan Pengembangan Asosiasi FIFA Thierry Regenass tidak benar. Perombakan itu adalah keinginan Agum sendiri.
"Agum membawa-bawa Regenass. Dia ingin menjalankan keinginannya, tapi seolah-olah itu keinginan FIFA. Ini keinginan Agum dan orang-orang di belakang Agum. Regenass tidak tahu apa-apa. Tahunya dari laporan saja," kata Tondo.
Sejak hari Rabu (11/5/2011), detikSport mencoba menghubungi Agum Gumelar dan Djoko Driyono (anggota KN), tetapi telepon dan pesan singkat yang dikirim tidak pernah dijawab.
(arp/a2s)











































