Hal itu disampaikan Jusuf dalam perbincangan dengan detiksport, Jumat (13/5/2011), menanggapi keputusan Komite Banding kemarin sore, yang meloloskan pasangan George Toisutta-Arifin Panigoro untuk mengikuti bursa pemilihan.
"Dari aspek hukum, bahwa setiap orang dapat maju sebagai ketum dan memperjuangkan hak-haknya, (keputusan) itu boleh. Tapi dari segi organisasi, semua hal harus mengikuti aturan-aturan sesuai konstitusi, pedoman PSSI maupun kode etik FIFA, agar tidak menimbulkan potensi konflik," tutur Jusuf yang juga presiden Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi saya memuji Komite Normalisasi, Pak Agum (Gumelar), karena tetap berkeinginan memenuhi ketentuan FIFA untuk menggelar kongres pada 20 Mei nanti, sekalipun tidak memenuhi kuorum. Aturan sudah dijalankan. Kalaupun masih ada hambatan-hambatan, itu hal lain.
"Saya memprediksi, dengan kondisi seperti itu, kongres tidak akan berjalan dengan normal, dan bisa saja mengarah pada deadlock, yang nantinya kemudian akan diserahkan ke FIFA bagaimana memutuskan semua ini," sambung Jusuf.
Hal yang diusulkan oleh mantan direktur Pembinaan Usia Muda serta direktur Marketing dan Promosi di PSSI ini adalah, FIFA berkoordinasi langsung dengan pemerintah, karena pemerintah punya otoritas pula dalam mengatur olahraga (sepakbola).
"Lebih baik FIFA berkoordinasi dengan pemerintah. Kalau mau ambil alih, ambil alih. Skorsing ya skorsing, yang penting jelas. Tapi harus ada solusi-solusi. Jangan sampai, di satu sisi tidak berjalan dengan baik, energi habis, sepakbola tidak jelas. Apa yang diperebutkan?"
Terkait diloloskannya duet GT-AP oleh Komding, Jusuf mengatakan hal itu bukan masalah besar buat dirinya untuk bertarung memperebutkan kursi nomor satu di PSSI.
"Saya ini nggak ada duit. Saya mau memaparkan visi-misi saya. Kita profesional saja, dan itu disampaikan di depan semua forum. Kita belum kalah, justru merasa tertantang. Kepada para pemilik suara, apakah ingin perubahan atau ingin jual suara saja. Kalau jual suara sih, ya tidak ada beda dengan pola yang lama," pungkasnya.
(a2s/arp)










































