Bung Kus: KN Jangan Jadi Operator FIFA

Bung Kus: KN Jangan Jadi Operator FIFA

- Sepakbola
Sabtu, 21 Mei 2011 16:37 WIB
Bung Kus: KN Jangan Jadi Operator FIFA
Jakarta - Pengamat sepakbola M. Kusnaeni berharap Komite Normalisasi yang dipimpin Agum Gumelar tidak menjadi "operator" FIFA. Penyelesaian PSSI semestinya dilakukan oleh Indonesia saja.

Mengomentari Kongres PSSI yang deadlock tadi malam, Kusnaeni berpendapat bahwa Agum terlalu terburu-buru menghentikan sidang. Padahal semestinya suasananya sudah mudah diprediksi, karena sebelum kongres memang terjadi banyak hal terutama terkait kengototan "Kelompok 78" yang mempertanyakan alasan penolakan pasangan yang mereka jagokan, yakni George Toisutta dan Arifin Panigoro.

"Menurut saya pribadi, Pak Agum terlalu tergesa-gesa (menyetop kongres). Dinamika-dinamika dalam kongres, harusnya bisa lebih sabar. Minimal Pak Agum punya pengalaman memimpin KSN (Kongres Sepakbola Nasional di Malang) yang lebih ricuh," ujar Kusnaeni kepada detiksport, Sabtu (21/5/2011), menyoal Kongres di hotel Sultan yang deadlock Jumat malam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kemampuan seorang pemimpin kongres adalah mengendalikan suasana. Dengan mengatakan suasana tak terkendali, menurut saya itu malah mempermalukan dirinya sendiri. Saya lihat semua masih bicara dalam koridor statuta.

"Memang berat menjadi pimpinan sidang, tapi kalau tidak sabar, ini patut disesalkan. Seharusnya tahu dari awal, akan ada banyak protes. Menurut saya, biarkan saya semua peserta mengungkapkan pendapatnya. Kasih kesempatan dulu. Tapi yang terjadi ini memberi gambaran buruk buat persepakbolaan kita, seakan-akan orang Indonesia tak bisa diatur," sambung pria yang lebih dikenal dengan panggilan 'Bung Kus' itu.

Ia menilai KN tidak siap dengan kongres sehingga perdebatan yang terjadi dianggap tidak memuaskan oleh peserta.

"Mereka seharusnya menyiapkan jawaban-jawabannya seperti apa. Jangan bergantung pada (penjelasan) Thierry Regenass, yang bagaimanapun dia memang sebagai observer saja di sana. Dan kita tahu bagaimana itu seorang Regenass. Juga soal statuta penolakan itu bagaimana, soal voting yang harus disiapkan, pasal-pasal berapa saja, dan sebagainya."

Bung Kus juga menyoroti soal peserta dari Kelompok 78. Walaupun mendukung upaya mereka menegakkan statuta FIFA dan PSSI, tapi sebagian cara mereka memang bisa menjadi kontraproduktif terutama di mata masyarakat umum.

"Di satu sisi mereka punya idealisme argumen-argumen statuta. Tapi cara menerjemahkan itu dalam suasana kongres jadi berbeda. Citranya mungkin tidak kondusif. Tapi barangkali itu harus dilakukan supaya tumbuh kesadaran bahwa ada yang salah. Kalau tidak kasih pressure dengan statuta itu, itu sama saja seperti 2009, pemalsuan statuta oleh Nurdin Halid yang kemudian disahkan kongres."

Usul Kusnaeni adalah Agum berbicara pada Regenass dan FIFA bahwa sebagai ketua KN dirinya masih bisa mengatasi situasi saat ini, dan akan terus menyelesaikan kongres. Masih ada waktu sebelum FIFA menggelar sidang darurat di akhir bulan, dan itu harus dimanfaatkan benar-benar.

"Jika FIFA percaya KN, maka biarkan KN melakukannya dengan cara sendiri, dengan cara Indonesia, karena hanya kita lah yang tahu apa yang terjadi di Indonesia. KN jangan jadi jubir FIFA, jangan jadi operatornya FIFA, jangan jadi yes man-nya FIFA."

Bung Kus percaya, Agum memiliki kapasitas dan kemampuan untuk melanjutkan tugasnya dengan baik.

"Dengan ketokohan, pengalaman dan kenegarawanan, Pak Agum saya harap terus membela nama baik Indonesia, jangan menyerahkan semuanya pada FIFA. Hindari sanksi, laksanakan kongres. FIFA justru harus diberi pengertian, dengan cara Indonesia, jangan main sanksi.

"Saya lihat masih mungkin kok masalah ini terselesaikan. Saya yakin Pak Agum sanggup mengatasi kepentingan pihak-pihak yang bertentangan. Justru ini saatnya dia merangkul semua pihak. Untuk pihak-pihak yang terkait, mungkin lebih baik selesaikan persoalan ini di Indonesia, daripada ke pihak yang tidak paham soal Indonesia, yang belum tentu juga memikirkan Indonesia," simpulnya.


(a2s/rin)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads