Menyoal Thierry Regenass dan Kisruh PSSI

Menyoal Thierry Regenass dan Kisruh PSSI

- Sepakbola
Kamis, 26 Mei 2011 17:03 WIB
Menyoal Thierry Regenass dan Kisruh PSSI
Jakarta - Keberadaan Direktur Keanggotaan dan Pengembangan Asosiasi FIFA, Thierry Regenass, cukup mencuri perhatian dalam Kongres PSSI 20 Mei lalu. Dialah sosok yang dinilai ikut "berperan" dalam kemelut PSSI belakangan ini.

Regenass hadir dalam Kongres PSSI di Jakarta sebagai peninjau (observer), duduk bersebelahan dengan pimpinan sidang yang juga ketua Komite Normalisasi Agum Gumelar sejak awal kongres.

"Ya, di mana pun ada kongres, yang namanya observer tidak didudukkan sejajar dengan pimpinan sidang. Barangkali itu bukan dia yang minta, tapi Pak Agum yang minta," ujar pengamat sepakbola yang juga mantan pengurus PSSI, Tondo Widodo, saat berbincang dengan detikSport, Kamis (26/5/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Regenass kala itu berbicara untuk memenuhi keinginan peserta sidang pendukung pasangan George Toisutta-Arifin Panigoro, yang dilarang mencalonkan diri menjadi ketua dan calon ketua umum PSSI.

Dalam keterangannya Regenass sempat mengatakan dirinya berada di tempat itu cuma sebagai observer, tapi kemudian menjelaskan alasan pelarangan tersebut. Ia mengatakan, Arifin terlibat dalam Liga Primer Indonesia, kompetisi yang tidak menginduk pada asosiasi, dan hal itu dianggap "tabu" oleh FIFA. Namun tidak ada alasan yang dibeberkannya menyangkut George.

Terkait keberadaan Regenass di kongres, pada Statuta PSSI Pasal 22 Ayat 4 tertulis, "Kongres dapat mengundang peninjau (oberserver) untuk turut serta dalam kongres tanpa hak bicara atau hak memilih".

"Dia nggak boleh ngomong. Dia cuma observer. Yang salah adalah yang memberi izin," lanjut Tondo. "Dia memberi provokasi dan intimidasi ke peserta kongres. Mengancam kalau tidak mau ikut FIFA akan kena sanksi."

Regenass mulai terkenal buat dunia persepakbolaan Indonesia sejak menjadi utusan FIFA saat PSSI menggelar Musyawarah Luar Biasa di Hotel Mercure, Ancol, pada April 2009. Kala itu ia mengesahkan ratifikasi Statuta PSSI, yang membuat Nurdin tetap bisa memimpin PSSI walaupun pernah menjadi narapidana, sedangkan Statuta FIFA jelas-jelas tidak membolehkan hal itu. Meski demikian, FIFA tak pernah menjatuhkan sanksi apapun pada Indonesia.

Beberapa bulan jelang tumbangnya rezim Nurdin, Regenass juga diduga aktif terlibat dalam surat menyurat yang dilakukan FIFA dengan pengurus PSSI saat itu. Dugaan ini muncul dari ciri khas surat FIFA untuk PSSI.

Ciri khas yang dimaksud di sini adalah adanya kode "tre", yang diduga merupakan inisial Regenass. Surat-surat berkode "tre" inilah yang dijadikan senjata oleh rezim Nurdin untuk meredam gerakan perubahan yang muncul saat itu. Surat-surat tersebut selalu memasukkan ancaman sanksi atau pembekuan kepada Indonesia kalau isinya tak dipatuhi. Diduga, meski ditandatangani oleh orang lain, surat-surat ini disusun oleh Regenass. (Kompas.com, 9 Mei 2011).

Surat berkode "SG/tre-ccr" tanggal 20 Maret 2009 dari FIFA untuk Nurdin Halid. FIFA mengaku menyesal tidak mencantumkan nama Nurdin pada data PSSI di situs FIFA. Karena ditandatangani oleh Sekjen FIFA Jerome Valcke, maka dicantumkan pula inisial SG alias "Secretary General"

Surat berkode "SG/tre/pco" tanggal 11 Januari 2011 dari FIFA untuk Sekjen PSSI Nugraha Besoes, berisi perintah agar PSSI menjatuhkan sanksi ke semua pihak yang terlibat di Liga Primer Indonesia (LPI).

Surat berkode "Tre/pco" tanggal 9 Februari 2011 yang ditandatangani sendiri oleh Regenass. Lewat surat ini, FIFA mengesahkan keputusan Exco PSSI pimpinan Nurdin menunjuk Komite Pemilihan. Ini tidak sesuai Standard Electoral Code FIFA Pasal 4 yang mengharuskan Komite Pemilihan dipilih lewat kongres.

Regenass juga pernah mendampingi Sepp Blatter saat dikunjungi oleh Dubes Indonesia untuk Swiss, Djoko Susilo, di Zurich pada 8 Maret lalu. Menurut Djoko, Regenass sempat "menghalang-halangi" dirinya saat akan mengungkit soal Kode Etik FIFA terkait Nurdin Halid yang kala itu sedang dituntut mundur. (Baca beritanya di sini)

Terakhir, Regenass juga menemani Agum saat menghadap Blatter di markas FIFA pada 19 April lalu, setelah ditunjuk sebagai ketua Komite Normalisasi. Dalam keterangan pers di kantor PSSI di Jakarta (21/4), Agum mengatakan, Regenass mempercepat jadwal pertemuannya dengan Blatter, dari 10.30 menjadi 09.00 waktu setempat.

Dalam diskusinya, menurut Agum, Regenass bersikeras tidak bisa menerima pencalonan GT-AP. Walaupun Agum sudah berusaha meyakinkan dia, namun Regenass bergeming.

"Saya sedikit bersikeras dengan dia. Saya jelaskan bahwa saya tidak punya interest. Misi saya adalah membawa sepak bola Indonesia kembali normal. Tapi, di dunia ini banyak orang keras, termasuk dia," terang Agum kala itu.

Setelah berdiskusi dengan Regenass, Agum lalu masuk ke ruang kerja Blatter dan melakukan pertemuan. FIFA kemudian tetap melarang GT-AP mengikuti pemilihan pengurus PSSI.



(mfi/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads