Agum Diminta Ajak Pihak Lain Temui FIFA

Agum Diminta Ajak Pihak Lain Temui FIFA

- Sepakbola
Senin, 30 Mei 2011 16:03 WIB
Jakarta - Ketua Komite Normalisasi (KN) Agum Gumelar diminta mengajak pihak lain untuk bertemu FIFA guna melanjutkan upaya perbaikan di tubuh PSSI. Hal ini dimaksudkan supaya tiada lagi saling curiga.

Setelah Kongres 20 Mei berakhir tanpa keputusan, nasib PSSI dan persepakbolaan Indonesia masih belum jelas. Agum dijadwalkan bertemu lagi dengan FIFA dan presidennya, Sepp Blatter, di Zurich.

Dalam surat yang akan dibawa dan dilaporkan ke Blatter, Agum antara lain membeberkan kejadian di Hotel Sultan, serta berharap tidak ada sanksi yang dijatuhkan buat Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejauh ini, kekhawatiran Indonesia akan diskorsing tidak terjadi. Kongres FIFA pun tidak mengagendakan pembahasan soal Indonesia.

"Ya memang tidak ada alasan ada sanksi. Di kongres itu tidak ada banting gelas, tidak ada gebrak meja, hanya adu argumentasi biasa saja. Sampai sekarang saya masih tidak tahu kenapa Pak Agum menghentikan sidang," tutur mantan pemain nasional Bob Hippy, yang juga tim sukses pasangan George Toisutta-Arifin Panigoro dalam bincang-bincang detiksport, Senin (30/5/2011).

"Sekarang, usul saja ke FIFA untuk gelar kongres lagi, dan semua stake holder diakomodasi, sehingga mestinya tidak ada persoalan lagi. Intinya, semuanya harus dilakukan secara terbuka, transparan, biar masyarakat juga tahu."

Dengan semangat keterbukaan itu, Bob berharap Agum menemui FIFA dengan melibatkan pihak-pihak lain, termasuk yang memiliki hak suara di PSSI.

"Jangan sepihak, ajaklah orang lain, supaya semua bisa mendengarkan alasan-alasan FIFA, dan apa yang mereka instruksikan. Melobi itu mestinya untuk semua, kepentingan bangsa, bukan untuk kepentingan pihak-pihak tertentu," sahut Bob.

Pada pertemuan pertama Agum dengan Blatter di markas FIFA pada 19 April lalu, ia semula dijadwalkan akan didampingi dengan Dubes RI untuk Swiss, Djoko Susilo. Namun kemudian jadwalnya dimajukan dan Agum tak jadi ditemani Joko saat bertemu Blatter dan Thierry Regenass.

"Kenapa hanya Pak Joko (Driyono) saja yang dilibatkan. Kenapa tidak ajak yang lain, itu lebih baik. Jangan sampai nanti ada lagi kecurigaan, semua bisa memantau, semua bisa tahu. Saya rasa FIFA tidak melarang kok siapa-siapa saja yang akan dibawa Pak Agum untuk menghadap mereka. Biar tidak ada lagi saling curiga."

Agum ke FIFA dengan didampingi Joko Driyono dan Surya Darma Tahir. Namun ada pula "perwakilan" Indonesia yang sudah berada di sana, dari pihak Liga Primer Indonesia (LPI), yaitu Farid Rahman (mantan calon eksekutif PSSI dan komisaris PT Liga Primer Indonesia) dan Hadi Basalamah (CEO Jakarta FC), yang mengatasnamanya dari Gerakan Reformasi Sepakbola Nasional Indonesia (GRSNI).

Dua nama terakhir bahkan telah bertemu dengan Sekjen FIFA Jerome Valcke di markas FIFA pada hari Minggu (29/5) pagi waktu setempat. Kepada mereka Valcke mengatakan, tidak ada agenda pembahasan sanksi untuk Indonesia.

Selain Regenass, perwakilan FIFA yang menghadiri kongres lalu, termasuk di Pekanbaru, Frank van Hattum, juga dikabarkan tidak memiliki penilaian apapun tentang Kongres 20 Mei. Ia menyayangkan terjadinya disinformasi padahal keberadaannya di Hotel Sultan hanya sebagai observer alias pemantau saja.


(a2s/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads