KN & K-78 Harus Bisa Melepaskan Ego Masing-masing

KN & K-78 Harus Bisa Melepaskan Ego Masing-masing

- Sepakbola
Selasa, 31 Mei 2011 08:03 WIB
Jakarta - Komite Normalisasi dan Kelompok 78 adalah dua kubu yang saling bersitegang saat kongres 20 Mei lalu. Namun kini keduanya diminta melepaskan egonya masing-masing demi terciptanya persepakbolaan Indonesia lebih baik.

Adalah pengamat sepakbola Budiarto Shambazy yang mengatakan demikian terkait pernyataan Ketua KN Agum Gumelar mengenai instruksi FIFA kepada Indonesia agar menggelar Kongres Pemilihan pengurus baru PSSI sebelum tanggal 30 Juni.

Budiarto melihat peluang terciptanya kongres yang baik sangat besar, andaikan kedua kubu itu mau menekan kehendaknya masing-masing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kongres lalu tak berujung disebabkan KN tetap ngotot mengatakan George Toisutta dan Arifin Panigoro tak bisa mencalonkan diri. Sedangkan K-78 tetap ingin kedua jagoannya itu maju.

"Kedua kubu (KN dan K78) harus bisa melepaskan egonya masing-masing. Itu jalan yg tengah yg baik. Kongres harus berjalan dengan bai. Kalau terjadi lagi kayak konflik seperti pelarangan NDB, GT dan AP, kita bakal kembali seperti kongres kemarin lagi," ujar Budiarto kepada detiksport, Senin (30/5/2011) malam WIB.

"Kelompok 78 itu kan ingin reformasi dan ingin GT-AP. Dari awal kan gak jelas alasan pelarangan dan sanksi pun sekarang sudah tidak jatuh. Maju terus saja mendukung GT dan AP," sambungnya,

"Kalau KN ikuti apa yang dikehendaki FIFA. Adakan kongres terbaru dari nol, terbuka dan demokratis. Hanya itu jalan terbaiknya dan komprominya. Jika tidak dilakukan, maka bakal balik seperti kemarin. Keledai saja tidak mau terjatuh ke lubang yang sama kedua kalinya."

Jika kedua kubu bisa melakukan hal itu, maka pria yang juga wartawan senior itu optimistis kongres dapat berlangsung dengan baik dan secara demokratis.

"Optimistis bisa terjadi kongres yang baik kok. Tentangan dari K-78 kemarin itu logis dan harusnya bisa diterima. Mereka kisruh seperti itu bukan ingin menggagalkan kongres tapi reformasi. Mereka hanya menanyakan alasan FIFA melarang GT dan AP," urai Budiarto panjang.

"Mereka memang berbuat kesalahan di masa lalu namun mereka ingin memperbaikinya kali ini. Kalau ini bisa dilakukan, kita bisa mendapat ketua baru lagi tanpa ada embel-embel money politic," tukasnya.

"Waktunya rekonsiliasi dan saatnya memajukan semua calon yang ada. Biar mereka bertarung secara fair di panggung kongres," simpulnya.

(mrp/roz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads