Hal itu dikatakan pengamat sepakbola yang juga pendiri Asosiasi Sekolah Sepak Bola Seluruh Indonesia (ASSBI), Taufik Jursal Effendi, setelah Djohar dipastikan menjabat sebagai ketua umum PSSI 2011-2014 dalam Kongres Luar Biasa PSSI di Hotel The Sunan, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (9/7/2011).
"Saya pertama kali kenal Pak Djohar di tahun 1996, waktu dia masih di Kemenegpora. Saya bertemu lagi ketika Pak Djohar menjadi Sekjen KONI era Pak Agum Gumelar, dan dari situ saya melihat dia sangat concern dengan pembinaan usia muda," tutur Taufik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah terpilih sebagai ketum PSSI, Djohar diminta harus segera menyusun kabinet yang tepat, dan diisi oleh orang-orang profesional, untuk bekerja keras demi membangkitkan kondisi persepakbolaan Indonesia yang masih carut-marut.
"Tidak cuma untuk membentuk tim nasional, tapi juga yang terpenting adalah meletakkan kembali fondasi-fondasi persepakbolaan di tanah air. Khusus untuk pembinaan usia muda, malah kita sudah saatnya mencanangkan program untuk lolos ke Piala Dunia U-17. Membentuk timnas senior itu perlu proses yang panjang, tapi untuk tim muda, kita masih bisa bersaing dengan negara-negara lain," papar Taufik.
Djohar pernah menjadi pemain (PSMS) di era 60 sampai 70-an, dan pernah pula menjadi wasit berlevel nasional, dan menjadi ketua Pengprov Sumatera Utara. Ia lama bekerja di kementerian pemuda dan olahraga, termasuk menjabat deputi di era Adhyaksa Dault dan kini staf ahli era Andi Mallarangeng.
"Saya tidak surprise dengan terpilihnya Pak Djohar. Ini adalah era di mana sepakbola harus diurus oleh orang-orang yang tahu seluk beluk sepakbola. Kita lihat, Michel Platini kini memimpin UEFA, Franz Beckenbauer mengurus sepakbola Jerman, dan yang lain-lain," pungkas Taufik.
(a2s/krs)
