KLB PSSI di Solo yang berlangsung 9 Juli 2011 merupakan pertaruhan terakhir bagi Indonesia. Jika sampai gagal menghasilkan kepengurusan baru seperti kongres di Riau dan di Jakarta, maka sanksi FIFA bakal jatuh.
Kongres di Riau gagal karena sejumlah peserta memaksa masuk. Sementara di Jakarta kongres menemui kebuntuan karena interupsi tanpa henti dari para peserta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Situasi serupa dikhawatirkan terjadi di Solo, di mana itu menjadi kesempatan terakhir bagi PSSI untuk membentuk kepengurusan baru. Bila sampai gagal lagi, maka sanksi FIFA dipastikan jatuh.
Faktanya kongres berjalan lancar, praktis tanpa interupsi, dan sukses menetapkan pengurus baru. Pengamat sepakbola Tondo Widodo mengatakan bahwa apa yang terjadi di KLB di Hotel Sunan merupakan hal yang tidak mengejutkan.
"Karena apa? Karena semua sudah sejalan bahwa tidak ada lagi hambatan-hambatan bagi calon yang diajukan. Kalau di Sultan kan mereka berjuang pak GT-AP lolos. Itu selesai, mereka legowo, calon baru dan lancar dan tak dihalang-halangi oleh panitia," kata Tondo kepada detikSport di Hotel Sunan, Sabtu (9/7/2011) malam WIB.
"Kalau interupsi, mau apa? Apa yang mau diinterupsi. Sebelumnya sudah ada sosialisasi, mereka sudah tahu tentang itu dan sudah sepakat. Semua juga ingin ini cepat selesai, karena kalau interupsi berkepanjangan, nanti dituduh bikin deadlock," tutup mantan pengurus PSSI tersebut.
(nar/din)










































