Sesungguhnya kekalahan 0-2 di kandang sendiri saja bukanlah sebuah hal yang menyenangkan bagi Indonesia. Tapi, apa yang terjadi setelahnya justru seperti tangga yang menjatuhi tubuh yang sudah terkapar.
Dengan lancar, Wim Rijsbergen menumpahkan segala uneg-unegnya setelah pertandingan, di depan para wartawan yang memenuhi ruangan konferensi pers, di samping kapten timnas Bambang Pamungkas yang duduk satu meja dengannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabar lain pun muncul. Beberapa pemain kecewa dengan pernyataan sang pelatih, plus sejumlah makian yang dilontarkannya di ruang ganti. Bepe di dalam situs pribadinya mengungkapkan, tujuh pemain timnas akhirnya keberatan dilatih oleh Wim.
"Sejujurnya hal yang membuat pemain sangat kecewa kepada Wim Rijsbergen adalah komentar beliau sesaat setelah pertandingan, yang terkesan melempar segala kesalahan kepada pemain."
"Saya yakin semua pemain kecewa dengan komentar tersebut, akan tetapi sejauh ini hanya 7 pemain yang menyampaikan keberatan untuk bermain di bawah asuhan Wim di tim nasional," klaim Bepe.
Masalah belum selesai sampai di situ. Suara-suara yang membandingkan Wim dengan pelatih sebelumnya, Alfred Riedl, muncul. Beberapa pemain pun dikabarkan sudah menemuinya ketika pria asal Austria itu berada di Jakarta beberapa hari lalu.
Bepe sendiri membenarkan kabar tersebut. Namun, dia juga memberikan konfirmasi bahwa pertemuan itu terjadi atas persetujuan PSSI.
Duduk Satu Meja
Di sinilah PSSI (se)harus(nya) bertindak. Mengingat mereka adalah federasi yang menaungi timnas, Wim, dan para pemain yang bermain di dalamnya, sudah selayaknya mereka membereskan kekeruhan ini.
PSSI memiliki hak untuk menjadi mediator bagi para pemain yang tengah melakukan protes dan Wim yang sedang kecewa dengan keadaan timnya. Duduk satu meja dan saling bicara mengenai keinginan masing-masing tentu lebih baik ketimbang mengumbar opini pribadi kepada publik.
Di sisi lain, permasalahan di tubuh timnas merupakan sebuah "cobaan" awal untuk kepengurusan baru PSSI, di antara sejumlah masalah lainnya seperti format kompetisi Liga Indonesia yang belum juga rampung. Patut dilihat sejauh mana PSSI bisa membereskan masalah ini. Kalaupun hasilnya dinilai tidak memuaskan, sudah selayaknya PSSI tidak anti-kritik.
Ingat, timnas kini masih berjuang di babak kualifikasi menuju Piala Dunia 2014. Kejernihan suasana memang tidak langsung menjamin 'Skuad Garuda' bakal lolos ke Brasil. Tapi, setidaknya, sesuatu yang jernih jelas lebih enak dilihat ketimbang sesuatu yang keruh.
(roz/din)











































