Penilaian tersebut keluar karena Djohar sampai saat ini seperti tidak mampu mengelola PSSI dengan baik. Contoh mudahnya adalah soal kompetisi.
Jika pada awalnya PSSI menetapkan format kompetisi dua wilayah dengan 32 klub, namun berubah lagi jadi 18 klub dengan satu wilayah. Lalu saat ini berubah lagi jadi 24 klub, tapi tetap satu wilayah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketum PSSI ini seperti Boneka Cantik dari India. Kenapa India? Karena kita harapkan sepakbola Indonesia bisa menari-nari seperti boneka Indonesia," tukas Jamal dalam sebuah acara diskusi di Ruangan VIP SUGBK, Senayan, Selasa (27/9/2011) sore WIB.
"Kalau KLB (Kongres Luar Biasa di Solo Juni lalu) sadar memilih ketua secara profesional. Sampai saat ini mana profesionalnya? Yang ada malah kemunduran," sambungnya.
"PSSI ini pasti ada dalangnya. Tergantung dalangnya mau membawa ke arah mana, tujuannya bagus atau tidak, memenuhi harapan masyarakat atau tidak," tuntasnya.
(a2s/krs)











































