Akhir Oktober lalu PT LI, selaku pengelola kompetisi liga Indonesia musim lalu, menggelar RUPS yang lantas melahirkan pergantian kepengurusan, dengan Harbiansyah Hanafiah kini menjabat komisaris PT LI dan Syahrir Taher menjadi direktur PT LI.
Selain itu, RUPS itu juga memutuskan bahwa Liga Indonesia akan diserahkan kepada klub sebagai pemegang saham utama, dengan PSSI hanya akan memegang 1% saham.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terhitung pada sampai hari ini, tanggal 9 November 2011, dari data sisminbakum (Sistem Administrasi Badan Hukum --red), bahwa PSSI masih mayoritas pemegang saham," tegas Direktur Kompetisi PSSI Sihar Sitorus kepada wartawan di Hotel Alila, Jakarta, Rabu (9/11/2011) malam.
"Susunan direksi masih belum berubah," lanjutnya sambil menunjukan kertas print dari sisminbakum, di mana tercatat bahwa Andi Darussalam Tabussalla masih menjadi direktur PT LI.
Saat ini, PSSI sendiri sudah mengalihkan kewenangan menggelar kompetisi liga Indonesia dari PT LI ke PT Liga Prima Indonesia Sportindo (PT LPIS). Keputusan itu tertuang dalam Surat Keputusan Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin.
"Dari situ dia menunjuk, dalam keputusannya, mengangkat saya dan rekan-rekan untuk segera membentuk PT, diberikan kewenangan untuk membentuk PT yaitu PT LPIS. Liga itu kewenangannya ada di PSSI," jelas CEO PT LPIS Widjajanto dalam sebuah percakapan dengan detikSport.
Mengenai alokasi saham, Widjajanto saat itu juga menjelaskan bahwa hal tersebut akan diputuskan lewat pembahasan dengan klub-klub terlebih dahulu. Tujuannya agar klub tidak terpapar sejumlah risiko mengingat saat ini, klaimnya, klub dalam kondisi kurang sehat sebagai imbas mekanisme kompetisi-kompetisi lalu.
"Pasca euforia kongres, ada desakan agar PT LI dimiliki klub-klub. Bisa Anda bayangkan, jika tidak tahu posisi aset atau posisi utang tiba-tiba masuk sebagai pemilik, apa kita juga tega membiarkan mereka dilindas oleh beban finansial, beban hukum, beban operasional," terangnya.
(krs/krs)










































