Demikian diungkapkan RD saat dimintai komentarnya terkait ketegasan PSSI untuk tidak memanggil masuk timnas pemain-pemain yang klubnya berlaga di ISL. Menurut mantan pelatih Persija Jakarta dan Sriwijaya FC, pemainlah yang menjadi korban dari konflik yang terjadi saat ini.
"Saya tidak terima, ini menyakitkan. Yang terjadi saat ini bukan salah pemain, karena anak-anak tidak tahu apa-apa," sahut RD dalam perbincangan dengan detiksport melalui sambungan telepon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Acuan yang dipakai adalah Statuta FIFA Pasal 79. Bunyinya, pertandingan yang dilakukan oleh timnas, di mana pemainnya tidak berada dalam klub atau liga yang terafiliasi dengan anggota FIFA adalah dilarang," sahut Djohar malam tadi.
Keharusan mematuhi aturan FIFA tersebut akan membuat timnas Indonesia kehilangan hampir seluruh pemain intinya. Untuk timnas U-23 saja, nama-nama yang menjadi bintang di SEA Games XXVI lalu, seperti Okto Maniani, Patrich Wanggai, Diego Michiels, Titus Bonai saat ini bermain di ISL.
Kondisi tersebut diakui RD sangat menyulitkan dalam membentuk skuad karena pilihan yang jadi sangat terbatas. Karenanya dia berharap kisruh yang terjadi di sepakbola nasional saat ini segera diselesaikan karena pemain menjadi salah satu korban lantaran tak bisa tampil di timnas.
Pemain juga menjadi korban terkait perpecahan yang melanda beberapa klub. Sebagaimana diketahui Persija dan Arema Malang saat ini terpecah dengan masing-masing ada yang berlaga di ISL dan IPL.
''Saya berharap pemain supaya ada payung hukum yang jelas. Kasihan mereka. Bagaimana saya bisa melihat pemain yang berbakat lainnya."
''Saya berharap segera diselesaikan. Sebenarnya masalah ini bukan (masalah) pemainnya, banyak konflik yang lebih urgent (untuk diselesaikan). Kenapa sampai ada dua kompetisi," tuntas dia.
(din/mrp)











































