Seperti diberitakan sebelumnya, Komdis PSSI menjatuhkan sanksi kepada Harbiansyah dan Syahril berupa larangan beraktivitas di lingkungan PSSI selama tiga tahun plus denda Rp 150 juta karena keduanya dianggap melanggar Kode Disiplin Pasal 57 ayat 1 dan 4.
Komdis menyebutkan, kesalahan Harbiansyah adalah bertingkat laku buruk dengan mengaku sebagai komisaris utama PT. Liga Indonesia, sedangkan Syahril telah bertingkah laku buruk dengan mengaku sebagai direktur utama PT. Liga Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
βOrang-orang yang menentukan dan memutuskan sanksi itu adalah orang-orang dengan perilaku tidak sehat. Itu perlu diperiksakan ke RS jiwa, perlu dicek ke psikiater,β ungkap Syahril Taher kepada detikSport, Selasa (13/12/2011) malam WITA.
Syahril menegaskan, tidak ada gunanya terus bersilang pendapat dengan keputusan-keputusan dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pengurus PSSI saat ini.
βYa, itu menurut dia (sanksi Komdis PSSI), kita lihat saja nanti. Perilaku buruk percuma dilawan karena mereka orang-orang yang tidak sehat. Mereka seharusnya berkaca sedikit lah dan jangan semau-maunya,β kata Syahril.
Menurut Syahril, terpilihnya dia sebagai Direktur Utama PT Liga Indonesia melalui proses yang mengacu kepada Kongres Bali, sebagai keputusan tertinggi di PSSI. Selain itu, pengukuhan PT. Liga Indonesia juga dihadiri mayoritas klub sebagai pemilik sah suara di PSSI.
βPT Liga Indonesia disetujui klub. Bukan orang gila yang memilih dan memutuskan saya di PT. Liga Indonesia,β tegas Syahril.
Juga dijelaskan Syahril, apabila memang pengurus PSSI saat ini berada di jalan yang benar, dipastikan banyak klub yang berminat untuk bergabung di kompetisi Liga Prima Indonesia di bawah naungan PT. Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS).
βKalau senang dengan PSSI, pemain di klub-klub pasti memilih LPI. Nah ini sebaliknya. Ada apa dengan PSSI, cuma PSSI yang tahu,β terangnya.
βJuga sebagai Ketua Umum Persiba, saya ini orang sehat. Kita lihat ke depan. Yang perlu digarisbawahi, PSSI itu milik klub-klub karena klub punya suara sah. Jadi bukan milik orang-perorangan,β tambah Syahril.
Dihubungi terpisah, Harbiansyah menegaskan dirinya tidak terlalu perlu untuk menanggapi keputusan-keputusan yang dikeluarkan pengurus PSSI saat ini yang justru semakin menambah persoalan. Soal sanksi, dia mempertanyakan pemahaman pengurus PSSI dalam berorganisasi.
βItu Saleh Mukadar, disanksi sama Kongres 3 tahun bukan sanksi Komdis PSSI, masih dipakai PSSI. Yang mana yang benar? Tinggi mana keputusan kongres dan komdis? Jadi keputusan sanksi Komdis yang ada saat ini adalah dihasilkan orang-orang yang tidak paham berorganisasi,β kata Harbiansyah.
Harbiansyah juga membantah pernyataan Wakil Ketua Komdis PSSI Catur Agus Saptono soal dirinya yang telah menghasut klub-klub profesional untuk tidak mengikuti Indonesian Premier League (IPL).
βSaya tidak pernah menghasut. Mereka yang ikut saya. Semisal waktu saya mundur dari Ketua Badan Liga Indonesia (BLI), saya pikir cuma saya saja yang mundur karena adanya keputusan menambah 6 klub tanpa memandang peraturan. Ternyata anda lihat saja sekarang bagaimana?,β tuturnya.
βSaya mengajak seluruh masyarakat sepakbola di Indonesia saat ini, menyatukan barisan, bagaimana menjatuhkan pengurus PSSI saat ini. Kasihan PSSI, tidak ada kerjaan karena mata hatinya tertutup semua,β tegas Harbiansyah.
Lebih lanjut lagi, Harbiansyah meminta PSSI untuk melihat akar permasalahan yang terjadi saat ini.
βYang salah duluan itu siapa. Yang tidak mengikuti aturan itu siapa? Kan kita menuntut supaya mereka menjalankan hasil amanah kongres di Bali. Kok tidak melaksanakan itu,β katanya.
βMereka itu mau jadi pengurus sepakbola bukan untuk memajukan sepakbola. Itu jadi pertanyaan saya. Kalau PSSI bagus, tentu banyak pemain dan klub yang memilih keputusan PSSI. Kenyataannya sekarang, tambah hancur,β tutup Harbiansyah.
(mfi/krs)











































