Profil Singkat 6 Bintang Starbol

Profil Singkat 6 Bintang Starbol

- Sepakbola
Jumat, 24 Feb 2012 14:39 WIB
Profil Singkat 6 Bintang Starbol
AFP/Adrian Dennis
Jakarta -

1. Marco Materazzi

AFP/Paolo Cocco
Matrix, begitu dia biasa disapa. Oleh pendukung Inter, ia dianggap sebagai salah seorang pemain yang paling loyal pada klub. Ia menghabiskan waktu 10 tahun bermain untuk tim berkostum hitam-biru tersebut.

Bersama Inter jugalah pria 38 tahun tersebut meraih kemasyhuran. Lima trofi Seri A dan empat trofi Coppa Italia adalah beberapa prestasi yang pernah diraihnya. Ia juga pernah dinobatkan sebagai pemain belakang terbaik Seri A pada 2007.

Selama bermain di Inter, Materazzi adalah salah satu pemain senior yang paling dihormati. Tak heran, ketika Jose Mourinho pertama kali datang ia langsung memutuskan untuk mendekati Materazzi (dan juga beberapa pemain senior lainnya) lebih dulu.

Ketika Mourinho memutuskan untuk hengkang ke Real Madrid, usai musim 2009/2010, pelatih berjuluk The Special One itu tampak memberikan pelukan perpisahan kepada Matrix.

Di luar performanya di lapangan, Matrix juga dikenal sebagai sosok yang sedikit kontroversial. Dengan tato yang memenuhi tubuhnya, ia punya kesan sangar dan bengal. Ketika Inter menang 2-0 atas AC Milan tahun 2010, ia merayakannya dengan memakai topeng Silvio Berlusconi.

Selain kontroversi itu, apalagi kalau bukan insidennya dengan Zinedine Zidane. Konon, Zidane kesal karena Matrix telah menghina ibu dan adik perempuannya.

2. Fabio Cannavaro

AFP/Timo Toivanen
Cannavaro tidak hanya terkenal dengan kemampuannya menggalang lini pertahanan tim, tetapi juga dengan wajahnya yang rupawan. Dengan tinggi "hanya" 176 cm, Cannavaro mampu menjadi salah satu bek tengah paling disegani di Eropa.

Ia adalah didikan asli Napoli dan selalu dikabarkan sangat mencintai klub kota asalnya, Naples, tersebut. Salah satu hal yang paling diingatnya kala bersama Napoli adalah kesempatannya mengenal sosok Diego Maradona. Cannavaro pernah mengaku mendapatkan beberapa saran dari 'Si Tangan Tuhan' itu.

Meski besar di Napoli, namanya menanjak kala memperkuat Parma pada pertengahan era 90-an. Ia bertahan di klub tersebut sejak ditangani oleh Nevio Scala, Carlo Ancelotti, dan Alberto Malesani. Canna juga menjadi bagian dari kesuksesan Parma kala memenangi Piala UEFA 1998/99. Waktu itu, Parma diperkuat oleh nama-nama besar seperti Juan Veron, Dino Baggio, Enrico Chiesa, dan Hernan Crespo.

Pindah dari Parma, Cannavaro melanglang-buana ke beberapa klub besar Italia seperti Juventus dan Inter Milan, sebelum akhirnya melanjutkan karier di luar 'Negeri Spaghetti' untuk bermain bersama Real Madrid.

Di level internasional, capaian juara Piala Dunia 2006 adalah prestasi terbesarnya. Selain itu, pria yang kini berusia 38 tahun tersebut juga tercatat sebagai pemegang caps terbanyak Gli Azzurri dengan 136 penampilan.

Psst, satu lagi... Canna juga dikenal sebagai seorang jago masak. Pizza dikabarkan menjadi salah satu keahliannya.

3. Edgar Davids

AFP/Aris Messinis
Si Pitbull, demikian pria 38 tahun ini dijuluki. Julukan itu muncul lantaran Davids, yang hanya bertinggi 170 cm, punya tenaga luar biasa untuk mengejar bola sepanjang 90 menit. Oleh karenanya, jangan heran kalau ia menjadi salah satu gelandang bertahan yang paling ditakuti di Seri A.

Davids adalah bagian dari pasukan muda Ajax Amsterdam yang merajai Eredivisie pada awal hingga pertengahan era 90-an. Ia juga berada di dalam skuad, ketika De Amsterdammers menjuarai Liga Champions 1994/1995. Namanya kemudian menarik minat AC Milan, namun hanya satu musim ia bertahan di klub berkostum merah-hitam tersebut.

Ia kemudian pindah ke Juventus pada 1997/1998, di mana ia bertahan selama tujuh musim. Di sinilah namanya menjadi besar, sebelum akhirnya lompat ke berbagai klub seperti Inter Milan, Barcelona, hingga Tottenham Hotspur.

Ia kemudian pulang ke Ajax untuk bermain selama dua musim, yakni pada 2006/2007 dan 2007/08. Sayang, masa keduanya bersama Ajax ini tak seindah yang sebelumnya. Tak ada trofi Eredivisie yang didapat.

Davids dikenal dengan rambut gondrong gimbalnya, plus kacamata yang selalu dipakainya di setiap laga. Namun, kacamata tersebut dipakainya bukan untuk gaya-gayaan, melainkan karena matanya terserang penyakit Glaukoma.

4. Robert Pires

AFP/Adrian Dennis
Pires memang tenar berkat masa-masanya di Arsenal. Namun, ia sudah mencuri perhatian kala memperkuat FC Metz di Ligue 1. Dari kurun waktu 1995/1996 hingga 1997/1998 ia menjadi salah satu pemain andalan Metz dan menyumbang 33 gol pada tiga musim tersebut.

Ia kemudian hengkang ke Olympique Marseille dan bermain bersama salah satu penyerang top Italia, Fabrizio Ravanelli. Pires dan Ravanelli jadi kekuatan utama OM. Sayang, mereka nihil gelar.

Usai dua musim bermain untuk OM, Pires hijrah ke London untuk memperkuat Arsenal. Di sinilah 'Si D'Artagnan' mendapatkan banyak trofi. Pires menjadi bagian penting kesuksesan skuad arahan Arsene Wenger itu mendapatkan dua trofi Premier League dan tiga trofi Piala FA. Ia nyaris membawa Arsenal juara Liga Champions tahun 2006, namun mereka kalah dari Barcelona di final.

Pires juga menjadi bagian dari tim nasional Prancis kala menjuarai Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. Pada senja kariernya, ia memilih untuk menepi ke kota kecil bernama Villarreal dan bermain untuk klub bernama sama asalo kota tersebut. Selama empat musim, ia menjadi salah satu andalan dari The Yellow Submarine.

Musim lalu, ia bermain sejenak bersama Aston Villa dan tampil sebanyak sembilan kali bersama The Villans. Dalam kehidupan pribadinya, Pires sudah menikah dua kali. Yang pertama adalah dengan Nathalie dan yang kedua adalah dengan model bernama Jessica Lemarie. Dari Lemarie, Pires dikaruniai dua orang anak; Naia dan Theo.

5. Denilson

AFP
Nama lengkapnya adalah Denilson de Oliveria Araujo. Namun, seperti kebanyakan pesepakbola Brasil lainnya, ia dipanggil dengan nama singkatnya; Denilson.

Namanya mulai dikenal ketika memperkuat Brasil di Piala Dunia 1998 dan setelahnya pindah dari Sao Paulo ke Real Betis. Kepindahannya ke Betis, yang melibatkan nilai transfer 21,5 juta poundsterling, menjadikannya pemain termahal di dunia ketika itu.

Ia menghabiskan waktu selama tujuh tahun bersama klub asal Andalusia itu tanpa menghasilkan satu gelar pun. Selanjutnya, ia melompat-lompat ke berbagai klub, termasuk bermain di Arab Saudi bersama Al Nassr dan di Amerika Serikat bersama Dallas FC.

Meski nyaris tak menyiratkan apa-apa, Denilson akhirnya mendapatkan sesuatu yang besar di dalam kariernya. Ia dipanggil Luiz Felipe Scolari untuk memperkuat Brasil di Piala Dunia 2002 dan di akhir turnamen Selecao keluar sebagai juara.

6. Djalminha

AFP/Pierre-Philippe Marcou
Dibanding lima nama lainnya, Djalminha mungkin adalah nama yang paling tidak dikenal. Djalma Feitosa Dias, demikian nama lengkap pria berusia 41 tahun ini.

Pada masa awal kariernya, ia kerap masuk skuad timnas Brasil dan ikut dipanggil ketika Selecao menjalani turnamen bernama Tournoi de France di Prancis pada 1997.

Ia menghabiskan karier sepakbola Eropa-nya bersama Deportivo La Coruna, di mana ia bermain selama lima musim di sana. Djalminha adalah bagian penting lini tengah Super Depor yang kala itu diperkuat gelandang jenius bernama Juan Valeron plus penyerang berbahaya bernama Diego Tristan dan Roy Makaay.

Bersama Depor yang ketika itu ditukangi Javier Irureta, ia sukses meraih satu trofi La Liga, satu trofi Copa del Rey, dan dua trofi Piala Super Spanyol. Belakangan ini, Djalminha tengah menekuni dunia sepakbola indoor.
Halaman 2 dari 7
Matrix, begitu dia biasa disapa. Oleh pendukung Inter, ia dianggap sebagai salah seorang pemain yang paling loyal pada klub. Ia menghabiskan waktu 10 tahun bermain untuk tim berkostum hitam-biru tersebut.

Bersama Inter jugalah pria 38 tahun tersebut meraih kemasyhuran. Lima trofi Seri A dan empat trofi Coppa Italia adalah beberapa prestasi yang pernah diraihnya. Ia juga pernah dinobatkan sebagai pemain belakang terbaik Seri A pada 2007.

Selama bermain di Inter, Materazzi adalah salah satu pemain senior yang paling dihormati. Tak heran, ketika Jose Mourinho pertama kali datang ia langsung memutuskan untuk mendekati Materazzi (dan juga beberapa pemain senior lainnya) lebih dulu.

Ketika Mourinho memutuskan untuk hengkang ke Real Madrid, usai musim 2009/2010, pelatih berjuluk The Special One itu tampak memberikan pelukan perpisahan kepada Matrix.

Di luar performanya di lapangan, Matrix juga dikenal sebagai sosok yang sedikit kontroversial. Dengan tato yang memenuhi tubuhnya, ia punya kesan sangar dan bengal. Ketika Inter menang 2-0 atas AC Milan tahun 2010, ia merayakannya dengan memakai topeng Silvio Berlusconi.

Selain kontroversi itu, apalagi kalau bukan insidennya dengan Zinedine Zidane. Konon, Zidane kesal karena Matrix telah menghina ibu dan adik perempuannya.

Cannavaro tidak hanya terkenal dengan kemampuannya menggalang lini pertahanan tim, tetapi juga dengan wajahnya yang rupawan. Dengan tinggi "hanya" 176 cm, Cannavaro mampu menjadi salah satu bek tengah paling disegani di Eropa.

Ia adalah didikan asli Napoli dan selalu dikabarkan sangat mencintai klub kota asalnya, Naples, tersebut. Salah satu hal yang paling diingatnya kala bersama Napoli adalah kesempatannya mengenal sosok Diego Maradona. Cannavaro pernah mengaku mendapatkan beberapa saran dari 'Si Tangan Tuhan' itu.

Meski besar di Napoli, namanya menanjak kala memperkuat Parma pada pertengahan era 90-an. Ia bertahan di klub tersebut sejak ditangani oleh Nevio Scala, Carlo Ancelotti, dan Alberto Malesani. Canna juga menjadi bagian dari kesuksesan Parma kala memenangi Piala UEFA 1998/99. Waktu itu, Parma diperkuat oleh nama-nama besar seperti Juan Veron, Dino Baggio, Enrico Chiesa, dan Hernan Crespo.

Pindah dari Parma, Cannavaro melanglang-buana ke beberapa klub besar Italia seperti Juventus dan Inter Milan, sebelum akhirnya melanjutkan karier di luar 'Negeri Spaghetti' untuk bermain bersama Real Madrid.

Di level internasional, capaian juara Piala Dunia 2006 adalah prestasi terbesarnya. Selain itu, pria yang kini berusia 38 tahun tersebut juga tercatat sebagai pemegang caps terbanyak Gli Azzurri dengan 136 penampilan.

Psst, satu lagi... Canna juga dikenal sebagai seorang jago masak. Pizza dikabarkan menjadi salah satu keahliannya.

Si Pitbull, demikian pria 38 tahun ini dijuluki. Julukan itu muncul lantaran Davids, yang hanya bertinggi 170 cm, punya tenaga luar biasa untuk mengejar bola sepanjang 90 menit. Oleh karenanya, jangan heran kalau ia menjadi salah satu gelandang bertahan yang paling ditakuti di Seri A.

Davids adalah bagian dari pasukan muda Ajax Amsterdam yang merajai Eredivisie pada awal hingga pertengahan era 90-an. Ia juga berada di dalam skuad, ketika De Amsterdammers menjuarai Liga Champions 1994/1995. Namanya kemudian menarik minat AC Milan, namun hanya satu musim ia bertahan di klub berkostum merah-hitam tersebut.

Ia kemudian pindah ke Juventus pada 1997/1998, di mana ia bertahan selama tujuh musim. Di sinilah namanya menjadi besar, sebelum akhirnya lompat ke berbagai klub seperti Inter Milan, Barcelona, hingga Tottenham Hotspur.

Ia kemudian pulang ke Ajax untuk bermain selama dua musim, yakni pada 2006/2007 dan 2007/08. Sayang, masa keduanya bersama Ajax ini tak seindah yang sebelumnya. Tak ada trofi Eredivisie yang didapat.

Davids dikenal dengan rambut gondrong gimbalnya, plus kacamata yang selalu dipakainya di setiap laga. Namun, kacamata tersebut dipakainya bukan untuk gaya-gayaan, melainkan karena matanya terserang penyakit Glaukoma.

Pires memang tenar berkat masa-masanya di Arsenal. Namun, ia sudah mencuri perhatian kala memperkuat FC Metz di Ligue 1. Dari kurun waktu 1995/1996 hingga 1997/1998 ia menjadi salah satu pemain andalan Metz dan menyumbang 33 gol pada tiga musim tersebut.

Ia kemudian hengkang ke Olympique Marseille dan bermain bersama salah satu penyerang top Italia, Fabrizio Ravanelli. Pires dan Ravanelli jadi kekuatan utama OM. Sayang, mereka nihil gelar.

Usai dua musim bermain untuk OM, Pires hijrah ke London untuk memperkuat Arsenal. Di sinilah 'Si D'Artagnan' mendapatkan banyak trofi. Pires menjadi bagian penting kesuksesan skuad arahan Arsene Wenger itu mendapatkan dua trofi Premier League dan tiga trofi Piala FA. Ia nyaris membawa Arsenal juara Liga Champions tahun 2006, namun mereka kalah dari Barcelona di final.

Pires juga menjadi bagian dari tim nasional Prancis kala menjuarai Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. Pada senja kariernya, ia memilih untuk menepi ke kota kecil bernama Villarreal dan bermain untuk klub bernama sama asalo kota tersebut. Selama empat musim, ia menjadi salah satu andalan dari The Yellow Submarine.

Musim lalu, ia bermain sejenak bersama Aston Villa dan tampil sebanyak sembilan kali bersama The Villans. Dalam kehidupan pribadinya, Pires sudah menikah dua kali. Yang pertama adalah dengan Nathalie dan yang kedua adalah dengan model bernama Jessica Lemarie. Dari Lemarie, Pires dikaruniai dua orang anak; Naia dan Theo.

Nama lengkapnya adalah Denilson de Oliveria Araujo. Namun, seperti kebanyakan pesepakbola Brasil lainnya, ia dipanggil dengan nama singkatnya; Denilson.

Namanya mulai dikenal ketika memperkuat Brasil di Piala Dunia 1998 dan setelahnya pindah dari Sao Paulo ke Real Betis. Kepindahannya ke Betis, yang melibatkan nilai transfer 21,5 juta poundsterling, menjadikannya pemain termahal di dunia ketika itu.

Ia menghabiskan waktu selama tujuh tahun bersama klub asal Andalusia itu tanpa menghasilkan satu gelar pun. Selanjutnya, ia melompat-lompat ke berbagai klub, termasuk bermain di Arab Saudi bersama Al Nassr dan di Amerika Serikat bersama Dallas FC.

Meski nyaris tak menyiratkan apa-apa, Denilson akhirnya mendapatkan sesuatu yang besar di dalam kariernya. Ia dipanggil Luiz Felipe Scolari untuk memperkuat Brasil di Piala Dunia 2002 dan di akhir turnamen Selecao keluar sebagai juara.

Dibanding lima nama lainnya, Djalminha mungkin adalah nama yang paling tidak dikenal. Djalma Feitosa Dias, demikian nama lengkap pria berusia 41 tahun ini.

Pada masa awal kariernya, ia kerap masuk skuad timnas Brasil dan ikut dipanggil ketika Selecao menjalani turnamen bernama Tournoi de France di Prancis pada 1997.

Ia menghabiskan karier sepakbola Eropa-nya bersama Deportivo La Coruna, di mana ia bermain selama lima musim di sana. Djalminha adalah bagian penting lini tengah Super Depor yang kala itu diperkuat gelandang jenius bernama Juan Valeron plus penyerang berbahaya bernama Diego Tristan dan Roy Makaay.

Bersama Depor yang ketika itu ditukangi Javier Irureta, ia sukses meraih satu trofi La Liga, satu trofi Copa del Rey, dan dua trofi Piala Super Spanyol. Belakangan ini, Djalminha tengah menekuni dunia sepakbola indoor.

(roz/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads