Pires tak sendiri. Bersamanya ada nama-nama tenar lainnya, seperti Marco Materazzi, Edgar Davids, Fabio Cannavaro, Denilson, dan juga Djalminha. Mereka memberikan pelatihan--yang sebenarnya tidak tampak seperti latihan--kepada beberapa bocah kecil tentang bagaimana mengolah si kulit bundar.
Delapan puluh ribu kursi di Gelora Bung Karno kosong melompong. Mereka, bersama para pewarta yang meliput kegiatan tersebut, menjadi saksi bagaimana Denilson pamer trik di hadapan bocah-bocah itu. Beberapa terkesima, sementara Denilson tertawa. Daripada berlatih, ini lebih terlihat seperti menikmati waktu bersepakbola.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Waktu berlalu, hari makin sore. Tapi bocah-bocah itu masih tertawa memainkan si kulit bundar. Beberapa masih berusia sekitar lima tahun. Mereka bahkan belum lahir ketika Denilson dinobatkan menjadi pemain termahal dunia atau ketika Pires mengangkat trofi Piala Eropa 2000.
Latih tanding pun menjadi sebuah sesi terakhir dari main bola sore-sore ini. Seorang bocah mendapatkan tepuk tangan riuh dari para pewarta dan orang tua yang hadir menyaksikan. Penyebabnya, bocah itu berhasil meliuk untuk melewati Davids. Tak lama setelahnya, tepuk tangan kembali terdengar ketika bola di kaki Davids terebut. Entah, apakah Si Pitbull itu sengaja melakukannya atau tidak.
Kejadian yang mengundang senyum lainnya adalah ketika beberapa anak berebut untuk mengeksekusi tendangan penalti. Davids lagi-lagi bertingkah jahil. Tepat ketika sang bocah ingin menendang, ia justru malah mengambil bolanya. Terang saja sang bocah, yang merasa dijahili, berteriak.
Mereka yang menyaksikan kegiatan sore itu pun cukup terhibur. Tak hanya bocah-bocah di lapangan, tetapi juga para petugas keamanan yang menyaksikan dari tribun VIP GBK. Beberapa di antaranya masih mengenali Djalminha dan mengingatnya sebagai bagian dari kesuksesan Deportivo La Coruna di era awal 2000-an.
"Djalminha badannya masih bagus. Beda dengan Denilson yang sudah agak gemuk. Ingat dulu zaman dia bersama Donato dan Roy Makaay di La Coruna. Yang saya ingat, waktu itu Salva Ballesta Vialco juga masih muda," ucap seorang petugas keamanan bernama Embi kepada detikSport.
"Senang bisa main sama bintang-bintangnya," ucap Farel yang masih berusia 9 tahun dan kini tengah tergabung di SSB AS-IOP. "Saya mengidolai Denilson dan Cannavaro," lanjutnya, ketika ditanya siapa bintang yang paling dipujanya.
Sore itu akhirnya ditutup dengan senyum semua bocah, para orang tua, petugas keamanan, dan juga GBK yang sepi.
(roz/krs)











































