"Saya pun sudah mendengar adanya permainan suap antara oknum yang berasal dari Indonesia dengan Komite Wasit, karena telah menunjuk Andre El-Haddad sebagai wasit. Namun, itu masih sulit dibuktikan," sahut Bernhard Limbong, di kantor PSSI, Senayan, Jakarta, Rabu (28/3).
Wajah sepakbola Indonesia tercoreng di laga terakhir Kualifikasi Piala Dunia 2014. Bertandang ke Bahrain saat tidak sudah punya peluang lolos, Indonesia menderita kekalahan telak dengan skor 0-10.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
FIFA mendasari kecurigaannya pada sejarah pertemuan Indonesia vs Bahrain, di mana skor pertandingan tak pernah selisihnya lebih besar dari dua gol. Selain itu, dalam laga tersebut Bahrain butuh menang dengan skor 9-0 untuk menjaga peluang lolos ke fase berikutnya, meski akhirnya gagal lolos karena Qatar bisa menahan Iran 2-2.
Usai kekalahan tersebut, PSSI menuding wasit menjadi penyebab utama, karena memberi tuan rumah empat penalti dan mengusir kiper Indonesia di menit ketiga. Muncul juga dugaan adanya pengaturan pertandingan, dengan melibatkan warga negara Indonesia. Jika itu benar terjadi, Limbong menyebut sang oknum layak dapat hukuman sangat berat.
"Jika hal tersebut terbukti benar, pelakunya harus dihukum berat. Bahkan digantung saja," seru Bernhard.
"Pasalnya, kekalahan tersebut juga membuat bangsa Indonesia kehilangan kebanggaannya. Bahkan, saya tidak bisa tidur selama dua minggu. Akibatnya, saya harus menjalani perawatan serius di rumah sakit," lanjutnya.
FIFA hingga kini masih terus melakukan penyelidikan terhadap pemain-pemain yang terlibat dalam pertandingan tersebut. Pekan depan, otoritas sepakbola dunia itu rencananya akan memeriksa Ferdinand Sinaga, Samsidar dan beberapa nama lainnya.
"Setelah itu, FIFA baru dapat memberikan keputusan," tuntas Bernhard.
(din/a2s)










































