Peni mengatakan itu kepada detiksurabaya.com seusai membuka kompetisi Danone Cup U-12 di Lapangan Rampal, Kota Malang, Selasa (22/5/2012).
Yang disoroti Peni adalah penyelenggaran kompetisi sepakbola profesional di bawah kendali PT. Liga Primer Indonesia Sportindo (LPIS). Ia berharap, sedari awalΒ Indonesian Premier League (IPL) diharapkan bisa menarik simpati dari pihak sponsor dan penyokong dana lainnya. Akan tetapi, dalam perjalanannya banyak klub terbelit masalah finansial akibat besarnya biaya operasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua PSSI Kota Malang ini kemudian berkesimpulan bahwa program yang dijalankan PSSI untuk meningkatkan kualitas sepakbola nasional tak berjalan baik. Banyak sponsor atau pihak ketiga di tanah air bergerak di bidang industri rokok. Namun, aturan baru membatasi ruang gerak mereka sehingga batal menyuntikkan dana kepada klub-klub. Sementara konsorsium berharap besar pada pemasukan dari penjualan tiket pertandingan klub-klub.
"Tapi lihatlah, penonton sepi. Terus mau dapat dari mana pemasukannya?" tutur Peni lagi.
Ia menyinggung juga soal kabar penjualan Persema, yang dalam sejarahnya dilahirkan pemerintah daerah. Jika memang harus dijual, ia meminta nama klub tidak sampai diubah
Peni berharap PSSI segera melakukan evaluasi termasuk supaya klub-klub bisa berkembang. segera ada perubahan demi masa depan sepakbola tanah air. "Semoga cepat terselesaikan segala permasalahan di PSSI. Semoga ada perubahan masa depan sepakbola tanah air," sambungnya.
(a2s/mfi)










































