Manajemen tim nasional Indonesia dinilai amburadul antara lain karena terlalu banyak orang yang merasa berkepentingan. Padahal, timnas punya potensi untuk menjadi sebuah tim sepakbola yang mandiri dan profesional.
Hal itu diungkapkan pengamat sepakbola M. Kusnaeni, atau yang lebih dikenal dengan sapaan Bung Kus, menanggapi kritikan terhadap manajemen timnas belakangan ini, di saat tim sedang mempersiapkan diri menghadapi Piala AFF mulai akhir bulan ini.
Dalam struktur PSSI terdapat sejumlah jabatan terkait timnas, seperti Penanggung Jawab Timnas (Bernhard Limbong), Koordinator Timnas (Bob Hippy), Direktur Operasional Timnas (Ferry Kodrat), sampai Manajer Timnas (Habil Marati).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menurut saya, manajemen timnas yang sekarang dikelola terlalu banyak tangan. Yang terjadi adalah, banyak pengambilan kebijakan atau rilis pernyataan keluar dari banyak mulut, yang terkadang simpang siur dan merisaukan, karena yang satu berbeda dengan yang lain. Mestinya satu pintu saja. Dalam keadaan sekarang, seharusnya manajemen itu kompak, satu arah, baik untuk kebijakan interen tim maupun kehumasan buat media dan publik."
Kusnaeni juga menyindir posisi manajer timnas yang masih saja ditempati oleh figur yang selama ini lebih dikenal sebagai politisi, yaitu Ramadan Pohan yang kemudian digantikan oleh Habil Marati.
"Ke depan PSSI itu harus mulai berpikir bahwa timnas jangan lagi jadi komoditas politik, tapi harus dikelola secara mandiri dan profesional. Harus dijauhkan frame berpikir bahwa manajer itu harus punya akses politik atau punya uang. Ini seperti kembali lagi ke rezim sebelumnya," papar dia.
Lebih jauh ia mengatakan, timnas sebenarnya punya potensi besar untuk menjadi contoh sebuah tim sepakbola yang dikelola secara mandiri dan profesional. Secara bisnis timnas bisa mencari dana sendiri bahkan tanpa pasokan pemerintah atau federasi sekalipun, dan yang lebih penting lagi adalah terbebas dari kepentingan politik.
"Bentuklah manajemen timnas yang betul-betul profesional dan fokus. Saya yakin, banyak orang-orang pintar yang bisa mengelola. Mereka bisa dinilai dari visi-visinya. Kalau tidak sanggup, ya jangan direkrut.
"Pribadi-pribadi yang tidak sepenuhnya paham masalah, atau tidak punya kemampuan komunikasi publik yang baik, mestinya lebih bijak dalam mengeluarkan statement, β ujar Bung Kus.
(a2s/din)










































