Kondisi persepakbolaan Indonesia dalam situasi tidak ideal menjelang Piala AFF 2012. PSSI disarankan melakukan komunikasi publik yang baik.
Setahun lebih PSSI dipimpin Djohar Arifin, kisruh sepakbola dalam negeri ternyata tak reda. Tiga isu besar yang terus menjadi polemik di masyarakat adalah "duel" kompetisi IPL-ISL, kontroversi KPSI, dan seputar tim nasional.
Terkait timnas, walaupun Piala AFF tinggal tiga minggu lagi, persoalan pemain ISL yang tak kunjung memenuhi panggilan untuk ikut pelatnas masih saja bergulir. Terakhir, PSSI mengulur lagi deadline-nya, dari Senin kemarin menjadi Senin (5/11) depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang paling berbahaya adalah, situasinya sudah 'to be or not to be'. Yang support atau yang apatis pada timnas sangat banyak. Masyarakat yang setia pada timnas takkan berdaya apabila timnasnya tak berdaya (di Piala AFF)," papar pengamat sepakbola M. Kusnaeni dalam perbincangan dengan detiksport, Kamis (1/11/2012).
Sayangnya, pihak federasi dinilai kurang dalam menjelaskan banyak hal lain yang sebenarnya juga perlu untuk diketahui publik.
"Ini bukan soal siapa pemain-pemain yang dikirim. Semua tim lawan berat kok. Kekuatan semua tim itu berimbang. Filipina misalnya, sudah tidak bisa lagi dilihat sebagai anak bawang. Artinya, kita bisa saja tersingkir, tapi bisa juga juara," sambung pria yang lebih dikenal dengan sapaan Bung Kus itu.
"Hal-hal itu yang tak pernah dijelaskan oleh PSSI. Padahal perlu juga disampaikan mengenai peta persaingan di Piala AFF nanti bagaimana, lawan kita bagaimana, peluang-peluangnya seperti apa. Itu perlu dikomunikasikan kepada pers, publik, dan stake holder lain, sehingga semua paham secara menyeluruh, tidak melulu soal Ahmad Bustomi jadi ikut timnas atau tidak, misalnya.
"Harus dijalin komunikasi publik yang bagus, manajemen komunikasi yang tepat, karena selama ini saya melihatnya lemah sekali," simpul Bung Kus.
(a2s/mfi)










































