"Ya saya sudah mendapatkan balasan surat tertanggal 22 Februari 2013. Di mana sebelumnya saya menuliskan surat kepada FIFA untuk menanyakan tentang teknis penyelenggaraan kongres,"ujar Roy, Senin (25/2/2013).
"Yang pertama dalam surat itu penegasan FIFA bahwa kongres 17 Maret itu adalah bukan kongres biasa tapi Kongres Luar Biasa. Karena sifatnya waktu, karena kurang lebih empat minggu persiapannya."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait agenda, Roy menjelaskan bahwa tetap menjalankan kesepakatan. Meski begitu, Roy menegaskan bahwa pemerintah hanya bertugas sebagai pengawas.
"Tapi tetap agenda kongres itu berisi revisi statuta, penyatuan liga, pengembalian empat anggota Exco terhukum itu sudah ya. Voter solo itu pasti sebelum kongres. Jadi cuma dua agendanya, revisi statuta dan penyatuan liga.
"Agenda tetap itu tidak ada perubahan. Akan tetapi kami pemerintah sebagai pengawas tidak ada campur tangan jika kongres itu berkembang ada tambahan agenda baru. Sesuai permintaan para peserta nantinya.
"Pemerintah akan selalu mendukung karena ini adalah langkah yang sangat bagus untuk menyelesaikan konflik sepakbola Indonesia," simpulnya.
(ads/a2s)










































