Masa depan Persebaya 1927 yang berkompetisi di IPL menjadi tidak jelas gara-gara keputusan Kongres Luar Biasa PSSI pada 17 Maret lalu. Di kongres itu diputuskan bahwa penyatuan liga musim depan diikuti 18 klub ISL dan empat klub IPL.
Keputusan tersebut membuat gelisah Persebaya, sebab mereka mengalami dualisme klub, sedangkan PSSI melalui La Nyalla Mattalitti pernah menyatakan bahwa Persebaya yang diakui adalah yang saat ini bermain di Divisi Utama PT. Liga Indonesia. Padahal, Persebaya (IPL) bahkan masih tercatat di situs resmi FIFA sebagai anggota kompetisi federasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami tentu mengharapkan ada musyawarah yang menyenangkan. Oleh karena itu harus ada duduk bersama di antara keduanya mencari siapa yang paling benar. Kalau tidak didukung masyarakat percuma," ujar Djohar di kantor PSSI, Senayan, Jakarta, Senin (8/4/2013).
Djohar yang baru hari ini kembali mengantor sejak KLB 17 Maret lalu itu berharap Persebaya dapat diselamatkan. Sebab menurutnya Persebaya merupakan klub besar di Indonesia.
"Kedua petinggi Persebaya harus duduk bersama untuk menyelamatkan Persebaya. Lebih baik duduk bersama secara sportivitas dengan suasana fair," lanjut dia.
"Kita harus bersatu jangan ada yang merasa senang atau menang. Tapi yang penting utuh seperti awalnya. Tidak ada untung karena itu harus cari penyelesaiannya," simpul dia.
Bonek kemarin menggelar aksi tanda tangan dan cap jempol darah. Mereka ingin menegaskan supaya pemerintah dan federasi membatalkan keputusan unifikasi liga yang melarang Persebaya berkompetisi.
(ads/a2s)










































