Hal tersebut disampaikan oleh Sekjen PSSI Hadiyandra, Selasa (16/4/2013), menanggapi surat dari Walikota Surabaya Tri Rismaharini.
"Walikota tidak punya hak. Saya yakin Ibu Walikota hanya menyampaikan aspirasi Bonek. Tapi sepertinya banyak yang salah paham dengan surat itu," ujar Hadiyandra.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Merasa keberatan atas putusan itu, bonek terus melakukan aksi untuk mendukung klub kesayangannya itu. Terakhir, sekitar 1.500 bonek menggelar aksi damai Senin (15/4) kemarin, meminta Walikota Tri Rismaharani untuk menyampaikan aspirasinya.
Pertemuan tersebut akhirnya menelurkan surat yang ditujukan kepada PSSI dan Menpora. Surat itu berisikan tentang dua poin utama, yakni permintaan untuk melarang Persebaya DU berlaga di Surabaya, serta meminta PSSI mengakui Persebaya IPL untuk berkompetisi di musim 2014.
Menurut Hadiyandra, usulan tersebut sangat tidak mungkin terealisasi. Sebab, putusan tersebut tidak dapat diubah. Akan tetapi, sambung dia ,solusi terbaik saat ini adalah menyatukan para pemain dengan melakukan merger di dua Persebaya itu.
"Keputusan itu sudah melalui kongres tidak mungkin bisa diubah. Solusi lain (dualisme Persebaya) adalah di tingkat pemain. Ini bukan untuk melakukan merger badan perusahaan ataupun membatalkan hasil kongres, tapi merger di kalangan pemain," tukasnya.
(ads/a2s)










































