Tim HWC Indonesia: Dana, Usaha, dan Doa

Tim HWC Indonesia: Dana, Usaha, dan Doa

Andi Abdullah Sururi - Sepakbola
Rabu, 07 Agu 2013 11:55 WIB
Tim HWC Indonesia: Dana, Usaha, dan Doa
dok. Rumah Cemara
Jakarta -

Untuk ketiga kalinya Rumah Cemara bisa membentuk sebuah tim yang mewakili Indonesia ke ajang Homeless World Cup. Tahun ini kebutuhan finansial mereka relatif bisa terpenuhi lebih baik.

Untuk mengumpulkan dana, Rumah Cemara selaku National Organizer untuk Homeless World Cup kerap menemui kendala. Bahkan di tahun 2010, ketika pertama kali diundang untuk mengikuti turnamen street soccer untuk kaum marjinal itu -- UEFA salah satu partnernya, mereka tak bisa berpartisipasi lantaran tidak punya biaya.

Setelah gagal berangkat ke Rio de Janeiro, Brasil, Rumah Cemara kemudian berusaha lebih keras supaya mereka bisa tampil di tahun berikutnya (2011). Co-founder Rumah Cemara, Ginan Koesmaryadi, sampai bernazar untuk jalan kaki dari Bandung ke Jakarta apabila tim yang dibentuk oleh lembaga sosial nirlaba itu bisa berangkat ke Paris.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Upaya mereka membuahkan hasil walaupun mendekati "injury time", setelah sebuah produsen minuman suplemen bersedia mensponsori keperluan mereka untuk ke Prancis. Ginan pun memenuhi nazarnya itu.

Meski dari turnamen itu Indonesia berhasil menduduki peringkat keenam dari 64 negara peserta, ternyata itu tidak membuat mereka mendapat kemudahan dalam mempersiapkan biaya untuk mengikuti HWC tahun 2012 di Mexico City. Hingga sebulan menjelang keberangkatan, baru terkumpul dana sebesar Rp 45 juta, sementara yang dibutuhkan mencapai Rp 500 juta.

Ketika sponsor-sponsor besar sulit didekati, termasuk tiga instansi pemerintah yaitu Kemenpora, PSSI, dan KONI, mereka kemudian melakukan upaya 'gerilya" dengan membuat program #1000untuk1mimpi. Mereka turun ke jalan-jalan, mencari donasi langsung dari masyarakat.

Gerakan itu ternyata mendapat respons luar biasa. Dari bantuan masyarakat itu mereka memperoleh sumbangan sekitar Rp 150 juta. Mereka pun beruntung karena belakangan Bank Jabar Banten dan Pertamina masuk menjadi sponsor. Yang tak kalah menarik, sumbangan yang mereka terima tidak semata-mata uang. Sebuah perusahaan travel menyediakan armada kendaraannya untuk antarjemput tim termasuk ke bandara. Juga ada yang khusus menyumbang perlengkapan bertanding, mulai dari jersey, training, dan sepatu. Atas "berkah" tersebut mereka pun memenuhi sesuatu yang sempat dinazarkan: berlatih dan bermain bola selama 24 jam nonstop.

Dari keikutsertaan yang kedua itu tim Indonesia bahkan mendulang prestasi yang lebih baik. Mereka berhasil menembus babak semifinal sebelum dikalahkan Brasil. Di akhir turnamen mereka finis di peringkat keempat.

Keberhasilan tim Rumah Cemara di Mexico City itu mulai membuka mata banyak kalangan, bahwa sekelompok pria (mantan) pecandu narkoba, pengidap HIV/AIDS, dan kaum miskin kota, mampu mengharumkan nama negara di kancah internasional.

Menghadapi HWC tahun ini yang digelar di Poznan, Polandia, Rumah Cemara menganggarkan dana sekitar Rp 200 juta, dengan alokasi terbesar untuk biaya tiket pesawat PP dan program training camp di Bandung selama kurang lebih dua bulan.

Dalam keterangannya kepada detiksport, manajer tim Kheista 'Kishi' Leonie mengatakan bahwa kali ini mereka mendapatkan kemudahan relatif lebih baik untuk mendapatkan sponsor. Bank BJB dan Pertamina EP kembali melanjutkan sponsorship-nya dengan mereka. Kemenpora pun kali ini ikut menyumbang berupa tanggungan tiket untuk semua pemain. Corsa juga berpartisipasi, seperti halnya Nike yang mengurus semua keperluan apparel pemain.

Selain dana, Rumah Cemara tetap melakukan upaya-upaya yang sifatnya teknis. Pembentukan tim sudah dijalankan mulai dari mengadakan turnamen seleksi bertajuk League of Change di Bandung pada Maret lalu. Dari turnamen itu direkrut 16 pemain dari berbagai daerah, yang kemudian dikerucutkan lagi menjadi 10 melalui seleksi berikutnya, termasuk sesi "berbaur dengan alam" bersama organisasi lingkungan Wanadri.

Akhirnya terpilih delapan pemain terbaik yang akan dibawa ke Polandia, dan mereka telah menjalani training camp intensif lebih dari satu bulan, dipimpin oleh pelatih Bonsu Hasibuan, yang tahun lalu menjadi kapten tim merangkap pelatih -- dan terpilih sebagai pelatih terbaik.

"Kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak, sponsor, yang telah memberikan dukungannya kepada kami, baik materil maupun moral. Kami akan berusaha sebaik mungkin di sana, dan pulang dengan membawa hasil yang baik dari sana," tutur Kishi kepada detiksport, Rabu (7/8) pagi.

"Yang perlu diingat, apa yang kami lakukan bukan semata-mata soal sepakbola, tapi di sini kami juga sedang berusaha untuk membuat perubahan bagi setiap individu. Pemain-pemain kita, yang mantan pecandu, ODHA, dan miskin kota, harus memiliki harapan dan mimpi bahwa kehidupan bisa lebih baik.

"Untuk itu, tentu saja, kami selalu mengharapkan pula doa dari seluruh masyarakat agar apa yang sedang kami usahakan ini dapat membuahkan sesuatu yang positif, baik untuk para pemain dan tim, dan syukur-syukur bisa ikut mengharumkan nama negara. Sekali lagi, terima kasih atas semua support-nya," demikian Kishi.

Tim Indonesia akan berangkat ke Polandia tengah malam ini dari bandara Soekarna-Hatta. Homeless World Cup 2013 dihelat 11-18 Agustus, diikuti 48 negara. Tahun lalu skuat "Merah Putih" berhasil menembus babak semifinal dan finis di peringkat keempat.






(a2s/roz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads