Tim Indonesia sudah melakoni pertandingan pertamanya di ajang Homeless World Cup 2013 tadi malam. Dengan penampilan yang nyentrik, mereka terus meyakinkan diri bahwa mereka bisa!
Berkostum merah-putih saat menghadapi Skotlandia, Minggu (11/8/2013) siang waktu setempat, di tepi Danau Malta, Poznan, Polandia, para pemain dan ofisial Indonesia tampak bersemangat mengikuti lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan sebelum kickoff.
"Yes we can!" tulis situs resmi turnamen setelah lagu kebangsaan itu selesai. Dan kemudian Ahmad Zaini dan kawan-kawan bertarung melawan Skotlandia, dan menang dengan skor akhir 6-4. Tahun lalu kedua negara juga bertemu di babak grup, yang dimenangi Indonesia dengan 5-4.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada jutaan orang tuna wisma di seluruh dunia, tapi satu saja pun sudah terlalu banyak," ucap Young dalam jumpa pers sebelum turnamen dimulai.
"Kemarin, seorang pemain dari China datang dan menyalamiku dan berbicara dalam bahasa Inggris yang patah-patah, bahwa dua bulan lalu dia masih ada di tempat kegelapan, dan kini ia berterima kasih karena Homeless World Cup telah mengubah hidupnya," tegas Young dalam acara pembukaan di Stadion Miejski, Poznan, yang tahun lalu dipakai untuk Piala Eropa 2012.
"Ya, Homeless World Cup memang menyediakan sebuah katalis untuk perubahan, tapi para pemain itu sendiri yang harus bekerja keras."
Seperti selalu diingatkan oleh pihak Rumah Cemara selaku National Organizer buat Indonesia di HWC, kemenangan di turnamen street soccer ini bukanlah semata-mata yang diburu melainkan sebuah momen untuk membuat perubahan pada individu-individunya.
"Tugas saya sudah berakhir saat melatih dan membekali kalian. Sekarang adalah bagian kalian untuk membuat cerita dalam Homeless World Cup. Lupakan prestasi di Prancis dan di Meksiko, masa lalu itu hanya untuk cerita. Kalian sekarang yang akan membuat ceritanya seperti apa," demikian salah satu ucapan pelatih Bonsu Hasibuan kepada para pemainnya, dalam sebuah briefing tim sebelum melawan Skotlandia.
Sementara itu, di luar lapangan para pemain Indonesia juga mulai merajut pengalaman demi pengalaman berada di Polandia, sebagaimana semua pemain baru pertama kali menginjakkan kaki ke luar negeri.
Seperti diceritakan manajemen tim kepada detiksport, pada sesi pembukaan hari Sabtu lalu, kontingen Indonesia memilih berpenampilan yang unik. Mereka berpakaian adat masing-masing pemain, dan sebagian besar bergaya rambut mohawk yang dicat merah.
Mereka tampil berbeda dengan perwakilan 45 negara lainnya yang kebanyakan mengenakan jaket, sweater, atau kostum tim. Para pemain Indonesia, pelatih, dan manajer menggunakan baju batik, baju kampret, sarung, celana pangsi, beskap Jawa, blangkon, udeng-udeng, dan iket Sunda.
Manajer tim Indonesia, Kheista Leonie mengatakan, penampilan itu sengaja dipilih agar bisa memperlihatkan kekayaan dan keragaman budaya yang ada di Indonesia. "Biar terlihat berbeda dan menarik juga," ujar Kheista Leonie, manajer tim.
Pilihan busana itu ternyata berbuah manis. Tidak sedikit pemain dari negara lain yang mengajak para pemain Indonesia untuk berfoto bersama. Pemain yang paling sering diajak berfoto adalah Dimas Saputra Ramadhan, asal Jawa Timur.
Dimas menjadi daya tarik karena setelan beskap, blangkong, serta sarung di bagian depan celananya. Dia hadir ke lapangan bola di Danau Malta seperti seorang panitia pernikahan jika dirunut pada acara resepsi beradat Jawa di Indonesia. "Beskap ini memang sengaja dibawakan oleh orang tua saya waktu lagi pemusatan latihan," ujar pria yang sehari-harinya bekerja sebagai sopir itu.

Setelah mengalahkan Skotlandia di laga pertamanya di Grup G, hari ini Indonesia akan berduel melawan Argentina dan Wales, sebelum meladeni India di hari Selasa.
Daftar pemain Indonesia baca di sini
(/)










































