Aspek ini yang telah dijadikan salah satu pertimbangan Aqua Danone dalam menyelenggarakan kompetisi DNC nasional, bahwa tim yang terpilih adalah tim yang jadi juara, dan bukannya merupakan hasil seleksi pemain-pemain tertentu.
Alasannya, karena mereka sudah berada di tim yang sama sekian lama, para pemain otomatis sudah saling mengenal luar-dalam.
"Anak-anak ini sangat kompak. Saya bisa melihat itu betul-betul, baik di lapangan maupun di luar lapangan," ujar Heri, asisten pelatih tim SSB Tugu Muda, yang tahun ini mewakili Indonesia di final dunia DNC.
Heri, yang tahun lalu juga melakoni tugas yang sama di Polandia, menambahkan, dari penilaian staf pelatih selama Training Camp di Batu, Malang, anak-anak Tugu Muda itu tidak terkesan tegang, walaupun tak lama lagi akan bertarung di London, Inggris.
"Mereka saya lihat selalu ceria. Terlihat sebagai anak-anak pada umumnya. Doyan becanda, main-main. Yang usil, tetap saja usil pada temannya. Tapi jika berlatih mereka tetap serius mengikuti semua instruksi kami," tutur Heri kepada detikSport.
Kekompakan dan keceriaan anak-anak itulah yang disebut Heri sebagai salah satu kekuatan tim untuk dibawa turun ke lapangan, 4-7 September di Stadion Wembley.
"Kalau anak-anak Eropa itu 'kan umumnya punya postur yang lebih besar daripada Asia. Mereka juga punya power dalam tendangan, karena fisik mereka juga bagus, antara lain karena gizi mereka 'kan relatif lebih bagus.
"Dari segi skill tentu saja anak-anak kita tidak kalah. Speed juga. Hal lain yang penting ya itu tadi, mental dan kekompakan tim. Semoga anak-anak kita nanti bisa terus begitu di London nanti, dan juga tak ada masalah dalam beradaptasi dengan cuaca di sana," simpul Heri.
Indonesia tergabung di Grup H bersama tiga negara Eropa: Jerman, Republik Irlandia, dan Belgia. Satu tim bermain terdiri dari 9 pemain (termasuk kiper), durasinya 1 x 20 menit.
(a2s/cas)










































