Fans Solo Ancam Gugat Persijatim
Selasa, 02 Nov 2004 19:17 WIB
Solo - Persijatim terancam akan digugat oleh Pasoepati, kelompok supoter bola di Solo yang merasa dibohongi oleh klub sepakbola asal Jakarta Timur itu. Persijatim memilih hengkang dan pindah ke Palembang, setelah dua tahun meminjam Stadion Manahan untuk menjamu lawan tandingnya, tanpa bersedia menjadikannya home base.Sejumlah Korwil (koordinator wilayah) dan suku di Pasoepati Solo berencana menggugat manajemen Persijatim dengan alasan telah ingkar janji dan melakukan kebohongan publik. Pujiono, salah seorang penggagas rencana gugatan memaparkan bahwa manajamen Persijatim telah mengingkari sejumlah pernyataan yang mereka sampaikan sendiri. Dipaparkannya, dulu Persijatim berjanji akan terus berada di Solo sampai ada klub asal Solo yang masuk bisa divisi utama. Namun belum juga hal itu menjadi kenyataan, ternyata Persijatim telah menandatangi kontrak dengan walikota Palembang untuk pindah ke kora tersebut.Selain itu beberapa kelompok di Pasoepati ini juga mengaku tidak bisa menerimapernyataan Muhammad Zein selaku salah satu pemilik Persijatim yang menyampaikan alasan bahwa kepindahan itu didasari karena tidak adanya dukungan dari penonton di Solo. Padahal penonton Solo selalu berjubel di setiap pertandingan.Presiden Pasoepati, Bimo Putranto, mengaku mendengar rencana gugatan sejumlah kelompok di Pasoepati itu. "Di tingkat bawah baik itu di korwil maupun suku muncul wacana untuk menggugat itu. Kalau awalnya hanya satu dua korwil, kini niatan mengugat itu sudah meluas ke korwil-korwil lainnya. Kami selaku pengurus DPP hanya memfasilitasi saja," ujarnya Selasa, (2/11/2004). Selaku pengurus DPP, Bimo mengaku akan berusaha melakukan pendekatan personal terlebih dulu baik dengan korwil-korwil maupun dengan pengurus Persijatim."Kalau bisa jangan sampai melangkah ke gugatan. Namun seandainya pendekatan kami gagal, selaku pengurus DPP hanya bisa memfasilitasinya," ujar Bimo yang juga Wakil Ketua DPC PDIP Solo tersebut.Keberadaan Persijatim di Solo, sejak awal memang telah menjadi persoalan. Saat itu Solo yang memiliki potensi penonton besar tidak memiliki tim yang berada di divisi utama PSSI, setelah Pelita secara tiba-tiba meninggalkan Solo setelah mengeruk banyak keuntungan dan selanjutnya pindah ke Krakatau Steel sebagai klub yang dibeli. Melihat kekosongan itu, Persijatim yang saat itu terpuruk segera melirik peluang. Korda PSSI Jateng melarang Persijatim masuk Solo jika tidak bersedia home base. Hal ini belajar dari 'ulah' Pelita sebelumnya. Namun para suporter dan didukung Pemkot Solo memaksa agar Persijatim bisa main di Solo.Hampir setiap hari terjadi ketegangan yang telah mengarah ke fitnah antara pendukung dengan PSSI Jateng. Menerima desakan sedemikian rupa akhirnya pihak PSSI mengalah. Namun setelah berjalan dua tahun, apa yang dikhawatirkan oleh PSSI Jateng menjadi kenyataan dengan berbagai alasan yang disampaikan oleh Persijatim Jakarta Timur. (key/)











































