'Jangan Sampai Bibit Bagus tapi Tak Bisa Dituai'

'Jangan Sampai Bibit Bagus tapi Tak Bisa Dituai'

- Sepakbola
Minggu, 08 Sep 2013 17:47 WIB
Jangan Sampai Bibit Bagus tapi Tak Bisa Dituai
London -

Tim anak-anak Indonesia sering mencatat prestasi lumayan dan bagus di kancah internasional. Namun, bibit unggul sulit menghasilkan buah yang baik jika tak ada kerja keras untuk merawatnya.

Di turnamen usia 10-12 tahun bertajuk Danone Nations Cup, yang tahun ini digelar di London, 4-7 September lalu, tim "Merah Putih" yang diwakili oleh SSB Tugu Muda, Semarang, finis di peringkat kedelapan dari 32 negara peserta.

Di turnamen tahunan yang sudah dihelat sejak 2000, Indonesia bahkan pernah mencapai prestasi yang lebih baik: antara lain semifinal di edisi 2006, atau posisi enam besar di tahun 2009. Penghargaan individu juga pernah diraih, seperti top skorer (2000) dan kiper terbaik kedua (2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya sering katakan, anak-anak kita punya bakat yang tak kalah dengan negara-negara lain. Hanya saja, bedanya, negara-negara lain sudah memiliki program pembinaan (usia muda) yang sangat baik. Mereka hanya perlu bersabar, karena mereka tak pernah menargetkan instan," tutur pelatih tim Indonesia di DNC 2013, Timo Scheunemann, kepada detiksport di London, Minggu (8/9/20130.

"Indonesia, sabar itu tidak cukup. Kalau tidak ada kerja keras, sabar sampai kapanpun ya sulit. Perlu kerja keras untuk membenahi, memperbaiki sistem sepakbola termasuk untuk pembinaan usia muda. Jika itu tak juga dilakukan, kita akan begini-begini saja. Bibit yang bagus, kalau tidak dipupuk, dirawat, ya tidak akan menuai hasil yang bagus," sambungnya.

Salah satu aspek terpenting yang disoroti Timo adalah kualitas pelatih. Untuk pembinaan usia muda, mutlak dibutuhkan pelatih-pelatih yang bagus, karena dari mereka lah anak-anak itu bisa menjadi bibit unggul yang diharapkan.

Mengenai permainan tim didikannya di DNC 2013, Timo mengatakan bahwa dirinya, staf pelatih dan Aqua selaku koordinator, merasa bangga karena anak-anak sudah bermain dengan luar biasa.

"Pertama, jangan pernah menargetkan anak-anak untuk jadi juara. Mereka masih di tahap bahwa sepakbola harus dimainkan dengan senang, penuh passion, karena mereka masih dalam proses belajar," tuturnya.

"Jangan salah, tim-tim di sini banyak yang berasal dari akademi klub-klub profesional mereka. Prancis itu (tim yang keluar sebagai juara--Red), adalah akademi dari klub Lens. Jepang, yang mengalahkankan kita di perempatfinal, itu akademi binaan Yokohama Marinos. Dan masih banyak lagi.

"Tim kita bukan akademi lho. Ini SSB. Meski begitu permainan mereka tak kalah dengan tim-tim dari akademi. Banyak pelatih tim lain memuji tim Indonesia karena anak-anak kita, walaupun bukan dari akademi, sudah bisa menerapkan pola-pola sepakbola dengan baik, seperti bertahan dan menyerang," terang Timo yang juga pernah menjadi direktur pembinaan usia muda PSSI, dan pelatih Persema Malang itu.

Selama di London, tambahnya, anak-anak juga mendapat pelajaran mentalitas yang bagus. Mereka diajari bagaimana berdisiplin, bermain dengan sportif, belajar menerima keputusan wasit, dan lain-lain.

"Sejak awal kita dan Aqua Danone memang tidak menargetkan apa-apa. Tidak ada itu beban harus menang. Jangan pernah memberi anak-anak beban-beban. Soal menang, itu tak perlu disuruh lagi. Siapapun itu, anak-anak maupun pemain dewasa, pasti kalau turun ke lapangan itu ya ingin menang.

"Buktinya, ketika kalah dari Jepang dan juga Amerika Serikat (di pertandingan terakhir), mereka ya nangis. Biarkan saja. Itulah anak-anak, dan artinya mereka memang tidak mau kalah, kepinginnya ya menang. Secara umum kami puas dengan mental anak-anak selama ini. Mereka main lepas, rileks. Kami bangga. Well done, boys!"






(/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads