Menghadapi tuan rumah Piala Menpora grup A, Persib Bandung, Malaysia U-23 mampu bermain lepas tanpa tekanan. Hasilnya, tim muda Harimau Malaya ini mampu memetik hasil imbang dan bahkan merepotkan lawannya itu.
Efek dari absenya beberapa pilar utama Persib yang dipanggil untuk memperkuat ISL All Star menghadapi juara Liga Persipura, seperti I Made Wirawan, Toni Sucipto, dan top skor Serginho Van Dijk memang sangat terasa. Pos yang ditinggalkan ketiga pemain itu meninggalkan lubang besar yang menjadi kelemahan Persib dalam pertandingan kemarin malam (20/9).
Ketimpangan antara pemain utama dan lapis kedua Persib bukanya tanpa sebab. Pelatih Jajang Nurjaman memang jarang melakukan rotasi pemain di ISL. Sementara Malaysia U-23 mempunyai persiapan yang cukup matang. Sebelum menjuarai Merdeka Games beberapa pekan lalu, tim asuhan Ong Kim Swee lebih dahulu melakukan pemusatan latihan di Eropa Timur selama 5 bulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Janur menurunkan 2 striker dalam formasi 4-4-2, dengan menduetkan Kenji Adachihara bersama Hilton Morreira. Kedua pemain ini memang jarang diturunkan bersamaan. Hilton lebih banyak bermain bersama Van Dijk yang selalu menjadi starter yang hanya absen ketika terkena akumulasi kartu, sementara Kenji lebih sering duduk di bangku cadangan.
Dalam skema reguler Persib, Van Dijk memang menjadi seorang targetman, baik dalam formasi 4-2-3-1 maupun 4-4-2. Hilton dan Kenji bertugas "mendampingi" Van Dijk ataupun tak jarang mengisi posisi flank kiri, jika Jajang memilih formasi dengan 1 striker. Maka tidak heran ketika Hilton dan Kenji duet bersamaan tidak ada sosok targetman di Persib. Meski keduanya kerap berada di kotak penalti namun gaya bermain sebagai eksekutor tidak ada pada keduanya.

Gol pertama Persib menjadi gambaran, bagaimana kedua striker ini tidak mempunyai insting sebagai eksekutor atau targetman. Umpan silang Kenji membentur bek Malaysia U-23 yang mengakibatkan gol bunuh diri. Saat Kenji memasuki kotak penalti, Hilton yang memberi umpannya sendiri malah diam saja dan tak berupaya memasuki kotak penalti.
Hanya Firman Utina [dalam lingkaran merah] yang mencoba masuk ke kotak penalti, itu pun sangat terlambat. Untung saja bola silang dari Kenji gagal diantisipasi pemain bertahan Malaysia dan malah berujung gol bunuh diri.
Transisi Cepat Malaysia U-23
Skema serangan balik cepat diperagakan Malaysia U-23, bukan dengan long ball ke depan namun tetap umpan pendek memaksimalkan 4 gelandang mereka. Dengan formasi 4-4-1-1, secara kompak 4 gelandang sejajar dari Malaysia akan naik saat menyerang dan turun bersamaan saat bertahan.
Situasi ini sangat menyulitkan Hariono dan Mbida Messi sebagai duet gelandang di lini tengah. Keduanya tidak mampu berbuat banyak dan sering kalah bertarung di lini tengah. Hariono sendiri bermain buruk. Dia kehilangan kemampuannya dalam berduel, melakukan intersep-intersep dan bertarung guna melindungi back-four. Gol pertama Malaysia bahkan dimulai oleh kegagalannya mengendalikan bola dan dilanjutkan "keengganannya" memotong bola.
Dalam menyerang maupun bertahan Malaysia U-23 selalu unggul dalam jumlah pemain karena transisi cepat yang dilakukan. Sering terlambatnya Hariono dan Mbida turun membuat Malaysia lebih dominan di lini kedua mereka.

Gol pertama Malaysia diawali oleh serangan dari sisi kanan yang ditempati Jajang Sukmara. Seperti terlihat dalam gambar di atas, beberapa saat sebelum dikirimnya umpan silang, terlihat jelas bagaimana Malaysia unggul dalam jumlah pemain di jantung pertahanan Persib. 4 bek Persib vs 5 pemain Malaysia.
Taktik Malaysia ini tidak menjadi persoalan bagi Persib seandainya Hariono dan Mbida ditempatkan sebagai double pivot. Namun digesernya Firman ke sayap kiri membuat keduanya tidak bisa sepenuhnya menjadi poros halang pertahanan Persib. Sebetulnya masih ada nama Atep maupun memberikan opsi menggeser Hilton untuk menempati posisi sayap kiri. Namun lagi-lagi ketiadaan Van Dijk yang biasa menjadi targetman membuat Jajang Nurjaman tidak bisa memakai formasi 4-3-2-1 yang kerap diterapkan oleh Persib.
Rapuhnya Sisi Kiri Pertahanan Persib
Dengan dasar formasi yang sama yaitu 4-4-2 seharusnya lini tengah kedua tim seimbang, namun Malaysia mampu unggul berkat aktifnya kedua sayap mereka Saarvindran dan Ibrahim Syahrul. Keduanya tak hanya menyisir lebar lapangan, tapi juga mampi jadi bagian alur serangan yang baik bagi Malaysia dengan aktif melakukan umpan 1 -2, dengan Irfan dan Selamat Saiful di tengah.
Gol pertama menjelaskan bagaimana kedua sayap Malaysia bermain dengan solid. Sisi kanan yang mengirim crossing, sisi kanan yang ditempati oleh Saarvindran yang menerima bola dan akhirnya mencetak gol.
Sisi kiri pertahanan Persib yang dijaga oleh Jajang Sukmara menjadi bulan-bulanan serangan Malaysia. Dari sisi itulah semua gol Malaysia dimulai. Dan prosesnya hampir sama: diawali oleh tusukan sayap kanan memanfaatkan kelemahan sisi pertahanan yang dijaga Jajang Sukmara diakhiri dengan umpan silang yang talntas dikonversi menjadi gol.
Tampaknya, Jajang memang tidak terlalu siap secara taktik. Ini bisa sedikit dimaklumi mengingat sangat jarangnya pemain asal Bandung ini mendapatkan kesempatan bermain sepanjang ISL musim lalu. Kepercayaan yang pernah diberikan Drago Mamic pada musim 2011/2012, yang membuatnya sering mencicipi pengalaman sebagai starter, seperti menguap di musim ini.
Statistik Pertandingan
Dalam hal statistik Persib memang sedikit lebih unggul dari Malaysia U-23, namun dari permainan tim tamu bermain lebih efektif. Dengan Ball Possesion yang hampir sama, Malaysia menguasai pertandingan dengan cara umpan-umpan pendek yang lebih rapi. Hal ini berbeda dengan Persib yang lebih banyak melakukan dribbling dan long ball.
Secara keseluruhan lini tengah memang lebih banyak dikuasai Malaysia. Meskipun jumlah attempts Persib masih unggul. Hal ini tak lepas dari strategi dari Malaysia yang lebih sering memancing pemain belakang Persib keluar, daripada memberikan umpan langsung ke depan.


Kesimpulan
Laga ini menjadi gambaran bagaimana kesiapan Malaysia U-23 menghadapi SEA Games 2013 yang akan tiba beberapa bulan lagi. Mereka bermain rapi, solid, transisi bagus dan organisasi permainan yang rapi.
Tidak ada pemain yang memukau dengan skill individu yang meliuk-liuk, tapi secara tim mereka terlihat sudah begitu kompak. Dua sayap mereka bekerja dengan efektif, tahu kapan menusuk ke tengah, dan kapan menyisir lapangan. Tidak ada atraksi-atraksi berlebihan dari mereka.
Sementara timnas Indonesia U-23 yang sehari sebelumnya tampil di Islamic Solidarity Games di Palembang, kendati menang atas Maroko U-20, belum memperlihatkan organisasi permainan sebaik Malaysia.
Sementara bagi Persib sendiri, laga ini memperlihatkan betapa kejenuhan sangat menonjol dalam diri para pemainnya. Usai mengarungi ISL, dan baru pulang dari tur Papua, Persib terlihat bermain seadanya.
====
* Akun twitter penulis: @Panditfootball
* Tentang Pandit Football lihat di sini
(roz/a2s)










































