'Dilihat Boleh Dipegang Jangan'

Catatan dari Hanoi

'Dilihat Boleh Dipegang Jangan'

Femi Diah - Sepakbola
Jumat, 04 Okt 2013 12:57 WIB
Dilihat Boleh Dipegang Jangan
detiksport/femidiah
Hanoi -

Muhammad Daffa Baihaqy dan Muhammad Rafi Izzudin sempat bete sebelum terbang ke Hanoi untuk mengikuti Yamaha ASEAN Cup 2013 hari ini. Keduanya keberatan didampingi ibu mereka di Vietnam mulai kemarin sampai Senin nanti.

Faktanya, Tuty Handayani dan Camelia Qorieb tetap turut serta. Mereka ikut penerbangan serupa dan menginap di hotel yang sama dengan tim Indonesia Garuda Red dan Garuda White. Keduanya juga meramaikan acara welcome dinner tadi malam (3/10).

Padahal risiko Tuty dan Camelia tidak ringan. Keduanya tak bisa berinteraksi langsung dengan Daffa dan Rafi kendati buah hati mereka ada di depan mata.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti bagian bait lagu dangdut bersuasana riang, Boneka India, yang dinyanyikan Ellya Khadam, para pemain Indonesia Garuda Red dan Garuda White sedang dalam masa boleh dilihat, dipegang jangan, bahkan oleh kedua orang tuanya, saat ini.

Memang tak ada larangan tersurat dari barisan pelatih kepada orangtua yang ingin mendampingi. Namun, Tuty dan Camelia paham, putra mereka sedang mempunyai tugas bersama tim.

Tuty dan Camelia juga mencoba memahami keadaan psikologis yang sedang dirasakan anak-anak seusia Daffa dan Rafi, yang mulai gengsi didampingi ayah dan ibu. Apalagi disaksikan teman-teman sendiri.

"Kami ingin menyemangati anak secara langsung. Mumpung tak perlu bayar visa dan waktunya juga tak terlalu panjang. Tidak masalah meski tidak bisa berdekatan terus-menerus," kata Tuty.



Camelia juga mengaku dialah yang ngotot ingin mendampingi, meski sang anak sempat protes. "Alasan utama sih biar anak tambah semangat. Rafi tidak mau saya ikut, tapi kamilah yang bandel dan ngotot untuk ikut kali ini," kata Camelia.

Makanya, dia tak ambil pusing saat Rafi tak mau duduk sederet di pesawat, dari Jakarta ke Singapura atau saat penerbangan dilanjutkan dari Singapura ke Hanoi. Dia juga tak keberatan musti harus merogoh kocek sendiri.

"Kami malah seperti tak saling kenal. Tidak masalah buat saya, kebetulan ada rejeki sehingga saya bisa mendampingi," kata Camelia.

Lagipula, sudah sebulan belakangan, bertepatan dengan Rafi dan Dafa masuk pemusatan latihan di Sawangan, komunikasi kian terbatas. Pelatih menginstruksikan batasan waktu berkomunikasi dengan dunia luar. Mereka hanya diberi kesempatan memegang telepon genggam sekali dlam sepekan.

Sejatinya itu bukan pengalaman pertama. Mereka pernah menyaksikan langsung saat Daffa dan Rafi tampil membela timnas U-14 di Myanmar Juli lalu.

Tak hanya dukungan langsung di lapangan yang diberikan Tuty dan Camelia. Mereka juga meluluskan permintaan buah hati mereka untuk belajar bahasa Inggris.

"Anak-anak sadar sendiri kemampuan komunikasi dengan bahasa Inggris sangat penting," kata dia.

"Pernah ada kejadian, salah satu pemain mencoba klarifikasi kepada wasit dengan menyapa 'sit ... sit …' tapi oleh wasit disangka mengumpat. Untungnya ada pemain Timor Leste yang menjelaskan duduk perkaranya."

Nah, sejak kejadian itu para pemain yang beberapa di antaranya pernah tergabung pada timnas U-12 di Jepang dan Conga Cup di Australia pada tahun yang sama itu.

Camelia dan Tuty mulai senang mereka tak canggung dan gagap saat ditanya menu makanan oleh pramugari. Mereka juga tak senewen ketika menghadapi petugas imigrasi.

Menurut Camelia, anak-anak mereka juga terpacu oleh penampilan Evan Dimas saat menjadi kapten timnas U-19. Beberapa kali tertangkap kamera, Evan tak canggung saat harus berkomunikasi dengan wasit. Β 

Semoga kali ini prestasi Garuda Red dan Garuda White juga terinspirasi tim besutan Indra Sjafri tersebut!

(fem/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads