Garuda Red dan Garuda White bertemu terlalu dini dibanding apa yang diprediksi para pelatih. Sebelum terbang ke Hanoi, Rohmat menargetkan kedua tim bisa lolos ke final dan duel berebut gelar juara.
Tapi rencana tinggallah rencana. Garuda White hanya menjadi runner-up Grup B setelah kalah bersaing dari Thailand. Garuda Red masih menjalankan rencana dengan mulus sebagai pemuncakl klasemen akhir Grup A. Kedua tim pun harus bentrok pada babak empat besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka mendapatkan kesempatan menjadi pemain inti dalam laga sesama tim Indonesia di semifinal. Setelah sebelumnya jadi langganan menjadi pemain cadangan, kali ini mereka benar-benar berdiri di atas lapangan rumput di My Dinh National Stadium, Hanoi.
"Akhirnya saya turun bermain. Saya sempat bertanya-tanya dalam hati kapan bisa main, kaki saya sudah gatal untuk merasakan lapangan yang sudah ada di depan mata," kata Mirza usai semifinal, Minggu (6/10/2013) siang. "Hari ini baru benar-benar main bola," kata dia.
Sejatinya Mirza sudah mendapatkan kesempatan merumput di babak penyisihan grup. Namun dengan durasi yang sangat pendek, hanya dua menit.
Pengalaman bermain di babak semifinal itu setidaknya menjadi jawaban untuk wali kelasnya di 2 MTSN 19 Jakarta. Mirza ternyata sempat kesulitan mendapatkan izin dari wali kelas untuk menjalani pemusatan latihan selama satu bulan sebelum berangkat ke Hanoi. Untungnya kepala sekolah mengizinkan.
Ilham tak kalah gembira. Dia tak menyangka dipasang sejak menit pertama bersama Garuda White. "Pak Haji (panggilan karib Rohmat) memberi tahu setelah sholat subuh tadi. Rasanya tak percaya benar-benar mendapatkan kesempatan bermain," kata Ilham.
Diturukan Ilham, kakinya sempat mengalami kram menjelang tidur. Setelah mendapatkan penanganan, kondisi siswa kelas 3 SMP N 6 Jambi itu membaik.
Ilham juga ingin membuktikan jika pemuda Jambi masih menyisakan wakil di tim Garuda. Sebab, dari tiga pemain yang lolos ke final, hanya dia seorang yang tersisa.
Sayang pada laga debut sebagai starter itu, Ilham dan Mirza harus menuai kekalahan. Sedikit hiburan didapatkan lantaran yang menang adalah tim teman sendiri.
"Lagipula masih ada perebutan tempat ketiga. Kami harus menang atas Vietnam," kata Mirza yang besar di SSB Sparta itu.
Mereka berharap kesempatan tampil di pertandingan internasional kali ini menjadi pembuka jalan yang lebih besar di masa datang. Ilham dan Mirza ingin menjadi salah satu pengisi timnas dan mempunyai kesempatan untuk menjamu tim-tim lawan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.
"Waktu itu saya baca artikel tentang GBK dan cita-cita Pak Karno di detikcom, rasanya sebuah kebanggaan bisa bermain di sana. Selain itu, semua juga ingin merasakan riuhnya penonton di GBK," kata Mirza.
(fem/din)











































