Putusan tersebut dihasilkan dalam rapat pertemuan antara jajaran pengurus PT Liga dan PSSI bersama seluruh anggota kompetisi ISL, Senin (12/5/2014) malam.
"Terkait ujung kompetisi, kami memang ada opsi menjalankan pertandingan semifinal dan final di satu venue. Ini mempertimbangkan agenda politik dan agenda TC timnas sebelum AFF," ungkap CEO PT Liga Indonesia Joko Driyono.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditambahkan Joko, pertemuan itu turut membahas hukuman-hukuman yang diberikan oleh Komisi Disiplin. Menurutnya banyak klub yang meminta PSSI juga memberikan kesempatan kepada pemain atau klub yang dinilai bersalah untuk memberikan penjelasannya.
"Ada keinginan dari teman-teman klub, untuk adanya pendalaman terhadap pelanggaran disiplin. Bila ada ekspresi kemarahan, oke untuk ditindak, namun harus dilihat pula apa penyebabnya. Ada keinginan pula melakukan dialog intens sebelum komdis jatuhkan keputusan. Tapi perlu dipahami komdis ingin bertindak efektif, agar keputusan tidak kadaluarsa karena pertandingan demi pertandingan tidak bisa direm," jelasnya.
Sementara itu Ketua Komite Kompetisi PSSI Erwin Dwi Budiawan meminta kepada semua pihak untuk tidak beranggapan bahwa PSSI mata duitan lantaran gampang memberikan sanksi. Justru dia menilai momen ini dijadikan sebagai pembelajaran bagi klub dan pemain untuk berkompetisi lebih baik.
"Memang pelanggaran yang ada belum dikatakan parah. Tapi, pelanggaran disiplin yang dibuat sama seperti sebelumnya, itu-itu saja. Maka itu saat ini semua klub diminta mengurangi itu agar kompetisi semakin baik ke depannya," tutur Erwin.
"Jangan sampai ada anggapan PSSI cari duit dari komdis. Kalau tidak ada pelanggaran kan komdis juga tidak akan memberikan sanksi," kata dia.
(ads/krs)











































