Tak bisa dimungkiri bahwa golongan ODHA (sebutan untuk orang-orang yang telah mengidap HIV/AIDS), miskin kota, dan korban penyalahgunaan narkoba kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Homeless World Cup (HWC) pun jadi ajang bagi mereka menunjukkan eksistensi.
HWC merupakan turnamen sepakbola internasional tahunan, yang digelar antara lain untuk menjawab diskriminasi yang kerap terjadi terhadap kelompok-kelompok tersebut.
Bagi SBO (39 th), ajang ini merupakan kesempatan berharga untuk melawan stigma-stigma negatif masyarakat. Pengidap HIV sejak 2004 ini menyambut baik seleksi lokal yang dilakukan oleh Rumah Cemara selaku national organizer HWC. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya yang hanya digelar di Bandung, seleksi tahun ini dilakukan di sejumlah kota dan provinsi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya ingin kaum seperti saya yang ODHA ini tidak dipandang sebelah mata. Jadi stigma-stigma negatif yang ada di masyarakat dan dunia bisa hilang. Karena ODHA juga bisa berprestasi," tambah pria yang mendapatkan HIV karena kecanduan obat-obatan dan seks bebas ini.
OB (25 th) turut menambahkan. "Walaupun kita ODHA, tapi kita masih bisa berkarya. Baik buat diri sendiri ataupun negara," ujar sosok yang saat ini aktif di LSM Victory Plus, yang bergerak di bidang HIV.
Sementara Bayu (21 th) yang mewakili golongan miskin kota bertekad mengangkat nama keluarga lewat ajang ini, selain tentunya mengharumkan nama negara di Chile, bulan Oktober nanti.
"Bagus ya, jadi kami-kami yang terpinggirkan ini bisa dapat kesempatan untuk berjuang demi bangsa. Juga bisa menunjukkan ke bangsa sendiri: 'Ini lho, kita masyarakatmu bisa membanggakan negara'," ujar Bayu.
"Saya ingin mengangkat derajat keluarga. Yang pertama sih untuk keluarga, karena kami dari golongan bawah. Jadi memberi kebanggaan dulu untuk keluarga dan orang tua. Kalau yang lebih besar ya, untuk negara," tambah anak pedagang makan ringan di pasar ini.
Namun ketiganya masih harus menempuh perjalanan berat dan berjuang keras sebelum lolos sebagai anggota skuat tim Indonesia di HWC 2014. Dari daerah, tim seleksi kemudian akan melakukan seleksi nasional sampai nanti mendapatkan nama-nama yang dinilai sesuai kriteria.
"Persaingannya ketat. Lumayan jago-jago," ujar OB, sembari mengeluhkan terlalu mepetnya sosialisasi yang dilakukan panitia.
Soal informasi yang terlalu mepet itu dikonfirmasi oleh Bayu. Bagaimanapun, hal tersebut tak mengurangi keyakinannya untuk lolos ke tahap selanjutnya.
"Nggak ada persiapan khusus karena dapat infonya baru kemarin. Tapi kalau untuk seleksi ini yakin bisa lolos, harus yakin dulu dan yang penting sudah berusaha. Soal hasil urusan terakhir," ujarnya.
Indonesia menargetkan jadi tiga besar di edisi HWC kali ini, setelah di tahun lalu terhenti di babak perempatfinal. Target ini diyakini bisa terpenuhi.
"Saya sih optimistis Indonesia bisa bersaing. Karena persiapannya sudah dari sekarang sementara ajangnya baru Oktober nanti," tandas Bayu.
Setelah Semarang dan Yogya, seleksi selanjutnya adalah di kota Surabaya, bertempat di Goal Futsal, Komplek Ruko Mangga Dua, Jln. Jagir Wonokromo No. 100. Acara dilakukan pada hari Kamis (5/6/2014), mulai pukul 14.00 WIB. (Jadwal lengkap opening scout timnas HWC di sejumlah kota di Indonesia, baca di sini).
Seleksi ini bersifat terbuka, atau siapapun boleh mendaftarkan diri. Syaratnya adalah minimal berusia 17 tahun dan memenuhi kriteria ODHA (orang dengan HIV dan AIDS), pencandu atau mantan pecandu narkoba, atau kaum miskin kota yang ditandai dengan kepemilikan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). (raw/a2s)











































