Barisan pelatih dari Rumah Cemara diburu waktu. Namun, minimnya dana dan keharusan untuk menggeber seleksi pemain untuk mengisi tim nasional menuju Homeless World Cup (HWC) 2014 di banyak kota justru mempunyai cerita yang menarik.
Status memang keren: manajer, pelatih tim nasional dan asisten tim nasional. Febby Arhemsyah, Bonsu Hasibuan, dan Bogiem Sofyan juga mempunyai tugas yang serupa dengan para peracik tim sepakbola pada umumnya. Dari mencari pemain sampai memoles kemampuan tim.
Namun, "tiga serangkai" itu bukan menangani tim nasional yang bakal ke Piala Dunia di Brasil, yang bahkan pemain batuk pun bakal jadi berita. Juga merilis jersey menjadi hal penting yang setara dengan penunjukkan pelatih tim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menjelang HWC 2014 di Chile pada Oktober mendatang, Rumah Cemara memerlukan 24 pemain terbaik, yang berasal dari kalangan ODHA atau mantan dan pecandu narkoba, maupaun masyarakat miskin kota. Mereka blusukan ke daerah-daerah demi mendapatkan apa yang dicari itu.
"Buat kami lebih seru karena bisa mendatangi para pemain di daerah," kata Febby.

Ya, tak cuma harus melawan kelelahan dengan sistem seleksi jemput bola dengan jeda waktu yang pendek, mulai 31 Mei di Semarang dan berakhir di Bandung 21 Juni. Mereka juga harus berdamai dengan fasilitas sederhana.
"Dana memang selalu jadi kendala, tapi kami menyiasati dengan berbagai cara," kata Febby.
Salah satunya, lanjut dia, dengan memaksimalkan koneksi di daerah. "Menginap di kantor komunitas yang menjadi EO setempat atau cari penginapan murah," jelas sang manajer.
Ada kejadian menarik saat mereka melakukan seleksi di Lombok pada Sabtu (7/6) lalu. Sudah memilih penginapan murah, jantung mereka dibuat dagdigdug di malam terakhir. Bangunan di belakang penginapan kebakaran.
"Padahal paginya kami harus pindah ke Bali. Karena panik kami memutuskan tidak tidur untuk berjaga-jaga," jelas dia.
Tak cuma terkait penginapan yang bisa dihemat. Transportasi menjadi hal lain yang harus dihemat. Mereka juga rela berdesak-desakan dengan logistik di dalam mobil selama 12 jam dalam perjalanan Bandung ke Semarang, 31 Mei lalu.
"Kami 12 jam berada di dalam mobil dengan harus berbagi ruang di untuk logistik untuk tiga kota yang disinggahi. Lutut ditekuk maksimal, posisi duduk mencari celah yang pasβ¦.. Alhamdulillah saat turun dari mobil masih bisa pada lurus lagi badannya," tutur Febby sambil berseloroh.
Beruntung setibanya di Semarang, matahari belum "galak". Sekitar pukul 07.00 tim bisa selonjoran.
"Kami menemukan lontong kari khas Semarang. Tapi tidak bisa berlama-lama karena ada keperluan pengambilan gambar video yang akan ditayangkan di Youtube Chanel Rumah Cemara. Tujuannya Lawang Sewu dilanjut menuju daerah kota tua dan berakhir di Kuil Sam Poo Kong," jelas dia.
Beruntung, seleksi di GOR Kampus IAIN Wali Songo berjalan lancar meski jumlah peserta tak sesuai harapan. Hanya belasan dari 20 orang yang ditargetkan.

Tapi hiburan besar didapatkan saat tiba di Yogyakarta. Peserta melambung, dari belasan jadi 34 peserta. Uniknya ada waria. Mereka juga mendapatkan ssabutan baik dari rekan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) di sana.
"Ada catatan sejarah baru dari kota ini. Ada perwujudan nyata dari 'Indonesia tanpa stigma' yang selama ini kita kampanyekan," kata Febby.
Hiburan berlanjut saat tiba di Lombok dan berlanjut ke Bali. Di Lombok jumlah peserta meroket hingga 64. Di Bali, peserta seleksi memang menurun cuma 34. Tapi Bali menampilkan peserta perempuan.
"Seleksi belum selesai. Masih ada beberapa kota lagi. Memang mulai kelelahan tapi kami tetap bersemangat," tekad Febby.
(fem/a2s)











































