sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Rabu, 13 Agu 2014 23:37 WIB

Taktik Timnas U-19 Dinilai Tak Berkembang, Bagaimana Indra Sjafri?

- detikSport
Jakarta - Taktik dan gaya main Timnas Indonesia U-19 dinilai sudah terbaca oleh lawan. Untuk yang satu ini, pelatih Indra Sjafri pun tidak lepas dari sorotan.

Usai takluk dari Brunei Darussalam U-21 di Hassanal Bolkiah Trophy beberapa hari lalu, pelatih Brunei, Kwon Oh-Son, menilai bahwa permainan Evan Dimas dkk. mudah dibaca. Dia juga menilai, transisi permainan Timnas U-19 dari menyerang ke bertahan cukup lemah dan inilah yang dimanfaatkan Oh-Son.

Indonesia memiliki kelemahan. Mereka lemah saat melakukan transisi dari menyerang ke bertahan."

"Dan mereka cukup lamban dalam melakukannya. Oleh karena itu, kami menerapkan serangan balik," ujarnya seperti dilansir Brunei Times.

Satu hal yang juga menjadi sorotan adalah bagaimana sulitnya Timnas U-19 membongkar pertahanan lawan, meski mereka sukses memenangi penguasaan bola. Kalaupun pertahanan lawan terbongkar, penyelesaian akhir mereka juga tidak sepenuhnya oke.

Berkali-kali peluang gagal akibat ditepis kiper lawan atau meleset dari sasaran. Imbasnya, baru dua gol mereka ciptakan di Hassanal Bolkiah Trophy.

"Persoalannya yang sebenarnya, yang saya agak prihatin, biukan hasilnya, tapi cara main mereka. Cara mereka mengatasi tekanan, bagaimana mereka keluar dari tekanan, membangun dan menyusun serangan, sampai mereka membuat peluang dan membuka pertahanan, ini tidak ada kemajuan," ujar eks bek Persebaya dan tim nasional Indonesia, Ferril Hattu, kepada detikSport.

Ferril juga menilai, tidak ada perbaikan signifikan secara taktik dan permainan dari Indra Sjafri, ketika pola permainan timnya sudah terbaca lawan. Dia menilai, baik para pemain dan Indra sama-sama mengalami kejenuhan.

Faktor lainnya, menurut Ferril, para pemain stagnan lantaran selalu berkumpul dengan rekan-rekan setim di timnas selama berbulan-bulan. Padahal, menurutnya lagi, lebih baik mereka diberikan kompetisi setelah melakukan pemusatan latihan jangka pendek. Dengan demikian, selain mendapat penyegaran, para pemain juga memahami karakter pemain selain rekan-rekan setim di Timnas.

"Kalau ini diteruskan dengan Indra Sjafri, ini akan lambat majunya, karena mereka sudah jenuh. Indra Sjafri sudah peggang mereka berapa tahun? Dua tahun mungkin, sudah mau tiga tahun. Bagi anak-anak itu tidak ada hal baru. Mentok-mentoknya, ya, Indra Sjafri itu. Kita perlu berpikir out of the box, kita harus tidak selalu berpikir itu saja."

"Padahal anak-anak ini harus diberikan banyak wawasan dan pengalaman dengan berbagai orang yang punya berbagai karakter."

"Kira-kira nanti, prediksi saya, kalau nanti di U-21 atau U-22 atau U-23, mereka akan kalah dari Korsel yang kemarin mereka kalahkan itu (di penyisihan Piala Asia U-19, red). Karena mereka tidak ada perkembangan."

"Saya menjadi tidak begitu optimistis dengan timnas U-19. Dan saya akan tetap kritisi kalau kebijakannya tetap begitu. Saya tidak bilang Indra Sjafri jelek, tapi mereka butuh penyegaran."

"Kalau satu tahapan selesai, harus ada suasana baru. Karena anak-anak ini masih berkembang. Beda halnya kalau mereka sudah senior."

"Barcelona juga begitu. Setelah satu era selesai, mereka butuh pembaruan."

"Tim ini yang paling moncer dari yang kita punya dibandingkan dengan senior-seniornya. Sehingga butuh pelatih yang lebih keras," kata Ferril.

(roz/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com