SSB Asad Purwakarta tentu tak ingin sekadar jadi "turis" dalam perhelatan final dunia Danone Nation Cup (DNC) 2014. Maka itu dibutuhkan persiapan matang jelang turnamen di bulan November itu, termasuk jauh dari keluarga dan membiasakan hidup mandiri.
Keberhasilan menjadi juara final nasional DNC 2014 hanyalah awal dari perjalanan panjang SSB Asad menuju final dunia yang akan dihelat di Arena Corinthians, Sao Paulo pada 11-16 November mendatang.
Sebelum mereka berangkat ke Brasil, SSB Asad yang dikapteni Yadi Mulyadi yang merupakan peraih gelar pemain terbaik di final nasional lalu, harus menjalani serangkaian pemusatan latihan atau training camp.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para pemain yang berjumlah 12 itu dikumpulkan di mess yang terletak di sebelah stadion Purnawarman, Purwakarta, yang jadi tempat sehari-hari mereka berlatih.
Serangkaian latihan dijalani oleh Yadi dkk. untuk menggembleng teknik serta taktik mereka. Tak cuma dipimpin oleh pelatih Muhammad Ramdan, SSB Asad juga akan diarsiteki pelatih top Jacksen F Tiago yang punya segudang prestasi bersama tim-tim Indonesia.
Jacksen sendiri sudah menghadiri latihan perdananya bersama anak-anak tersebut, Kamis (18/9) sore WIB di sela-sela kesibukannya membawa Persipura tampil di semifinal Piala AFC serta persiapan jelang babak 8 Besar Indonesia Super League (ISL). Selama dua hari di Purwakarta, Jacksen akan coba lebih mendalami karakter serta gaya permainan masing-masing anak.
Meski disibukkan dengan persiapan jelang final dunia DNC 2014, anak-anak tersebut juga tak lupa dengan kegiatan belajar-mengajar, di mana setiap Senin hingga Jumat mulai pukul 9 pagi hingga 12 siang, ada staf pengajar yang didatangkan khusus untuk mereka.
"Jadi semacam home schooling lah. Kami juga tidak mau pendidikan anak-anak ini terlupakan meski sedang menjalani persiapan buat ke Brasil," ujar manajer tim Alwi kepada detiksport.
Selama 75 hari mereka akan "dikarantina" di mess tersebut sebelum akhirnya diterbangkan ke Malang untuk menjalani TC resmi yang diadakan oleh Aqua Danone sebagai sponsor resmi turnamen.
Sekitar 2,5 bulan berada jauh dari orangtua serta teman-teman sebaya tentu jadi hal baru bagi mereka dan tak mudah untuk dijalani . Meski demikian anak-anak tersebut mengaku tak masalah dan sudah mulai terbiasa dengan rutinitas yang dilakukan sehari-hari.
"Kami tak masalah dan sudah biasa kok. Lagipula kadang bapak-ibu datang menjenguk setiap akhir pekan atau kami yang kembali ke sana," ujar salah satu pemain, Sutan Diego A.O Zico, yang turut diamini oleh rekan-rekan setimnya.
Tak cuma saat latihan, kerjasama tim juga dipupuk di luar lapangan semisal mereka sudah membuat jadwal piket bersama untuk membersihkan mess. Bahkan untuk tidur pun mereka dikumpulkan di satu ruangan yang tak begitu besar ukurannya dan sesi makan sehari-hari juga harus dilakukan bersama-sama.
Barulah 10 hari setelah berada di Malang, tim akan berdiam diri semalam di Jakarta untuk kemudian bertolak ke Brasil pada tanggal 5 November untuk mencari pengalaman serta tentunya trofi yang bisa dibawah pulang ke Tanah Air.
(mrp/din)











































