sepakbola
Jelang Final Dunia Danone Nations Cup 2014

Belajar Disiplin dan Mengasah Mental Sejak Dini

Terpopuler Jadwal Pertandingan Klasemen Liga Hasil Pertandingan Man of The Match Gila Bola Foto Video Infografis
Jelang Final Dunia Danone Nations Cup 2014

Belajar Disiplin dan Mengasah Mental Sejak Dini


- detikSepakbola

Malang -

Untuk bisa meraih kesuksesan, jelas dibutuhkan keseriusa dan kecakapan dalam berusaha. Begitu pula di lapangan hijau, ketika kedisiplinan dalam berlatih merupakan hal yang perlu ditanamkan sejak awal.

Itulah yang dilakukan tim pelatih untuk SSB Asad yang akan mewakili Indonesia di Final Dunia Danone Nations Cup 2014 bulan depan. Anak-anak dari level U-12 itu sedang digembleng selama satu minggu di kawasan Agrokusumo, Kota Batu, Kabupaten Malang.

Disaksikan detiksport, pada sebuah sesi latihan Rabu (29/10) sore, para pemain belia itu diajari dengan serius oleh Coach Claudio de Jesus, walaupun sesekali tetap diwarnai canda untuk mengurai ketegangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita berlatih seperti layaknya bermain melawan tim lain. Ayo kalian yang serius," ucap Claudio berulangkali tanpa henti.

Jika ada pemain dinilai kurang semangat atau tidak serius, Claudio tak segan-segan memberi hukuman berupa push up.

Sesuai memimpin latihan, Claudio mengungkapkan masalah yang kerap ditemui di kalangan pemain-pemain Indonesia: mental.

"Mental pemain kita masih lemah. Ini selalu jadi catatan kami dan sangat perlu diperbaiki," ucap Claudio kepada detiksport.

Kepada tim SSB Asad yang sedang ia gembleng, ia menganggap masalah tersebut antara lain karena anak-anak harus dilatih orang baru di lingkungan yang baru pula. Oleh pihak Aqua Danone, Claudio bertindak sebagai asisten pelatih, sedangkan pelatih kepala adalah Jacksen F. Tiago, yang rencananya akan mulai menangani anak-anak hari ini.

"Kami akan mencoba untuk berkomunikasi satu per satu. Biar ada keterbukaan dan pemain tidak minder," ucap Claudio.

Ia juga mengatakan, dibandingkan dengan anak-anak di luar negeri, khususnya di Brasil yang merupakan negara asal Claudio (dan Jacksen), anak-anak Indonesia kurang berani mengungkapkan pikiran-pikirannya, unek-uneknya, termasuk bertanya langsung kepada pelatih apabila mereka dianggap melakukan kesalahan.

"Karena dari kebiasaan dan keberanian mengemukakan pendapatnya, dari situ kami bisa mengetahui dan memahami karakter dan masalah masing-masing anak," tutur Claudio.

Ia menyimpulkan, semua pelatihan dalam sepakbola pada dasarnya sama dalam hal fisik dan teknik. Yang membuat beda adalah mental dan kedisiplinan dari para pemain.

"Makanya mental merupakan pokok dari semuanya," imbuh dia.


(a2s/din)











Hide Ads