Pemecatan Indra Sjafri Disayangkan

Pemecatan Indra Sjafri Disayangkan

- Sepakbola
Senin, 03 Nov 2014 17:16 WIB
Pemecatan Indra Sjafri Disayangkan
Taufik Jursal Effendi (ist)
Jakarta -

PSSI telah memutuskan memberhentikan Indra Sjafri sebagai pelatih tim nasional Indonesia U-19. Ada yang menyayangkan keputusan tersebut karena Indra dinilai telah berjasa dengan memberikan sebuah gebrakan tersendiri di dunia sepakbola usia muda.

"Saya lebih melihatnya pada sisi bahwa Indra telah membuat fenomena tersendiri. Dalam 20 tahun terakhir, saya pikir tidak ada timnas junior yang bisa seperti ini," demikian disampaikan Taufik Jursal Effendi, tokoh pembinaan sepakbola usia dini yang juga ketua umum Asosiasi Sekolah Sepak Bola Indonesia (ASSBI), saat berbincang-bincang dengan detiksport, Senin (3/11/2014).

Di bawah asuhan Indra, timnas Indonesia berhasil menjuarai Piala AFF U-19 dan meloloskannya ke putaran final Piala Asia U-19 -- pertama kali sejak tahun 1970. Ia juga membawa tim asuhannya itu menjuarai turnamen sepakbola tingkat Asia, yaitu pada HKFA U-17 dan HKFA U-19 di Hongkong.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika mencuatkan timnya, Indra banyak dipuji karena melakukan metode "blusukan", dengan mencari para pemain dari pelosok-pelosok daerah. Tentang metodenya itu Indra pernah mengatakan bahwa ia "terpaksa" melakukan cara itu karena kompetisi untuk para pemain usia muda (junior) tidak berjalan dengan semestinya.

"Bagaimanapun dia harus dilihat sudah membawa konsep baru untuk usia muda. Dia mesti turun sendiri ke daerah-daerah karena memang kita tidak punya kompetisi yang mumpuni di level usia muda," sahut Taufik.

Sejak menjuarai Piala AFF U-19 pada September 2013, timnas U-19 menjadi primadona baru untuk masyarakat sepakbola Indonesia. Kritikan kepada Indra mulai bermunculan untuk hal-hal yang sifatnya teknis. Gagal di turnamen Hassanal Bolkiah Trophy di Brunei Darussalam, racikan strateginya dinilai tidak berkembang.

"Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat kita terlalu rindu pada gelar juara. Tak heran jika banyak orang menyalahkan Indra karena performa timnas U-19 di Myanmar memang tidak sebagus sebelumnya," tambah Taufik.

"Tapi masyarakat pun perlu menyadari bahwa di level junior, piala bukanlah ukuran utama. Di level ini yang lebih penting adalah fondasi dan filosofi bermain. Di negara manapun, ukuran berprestasi bukanlah tim juniornya, melainkan timnas senior. Karena, tim junior itu adalah sebuah jenjang menuju timnas senior yang kuat.

"Kalau mau fair, yang harus menjadi contoh adalah timnas senior. Tapi hingga kini pun timnas kita pun belum memainkan filosofi bermain yang benar. Jadi, kenapa harus tim junior yang menjadi contoh?" papar Taufik.

Indra tetap dinilai Taufik telah berhasil membangun sebuah timnas sehingga mendapat perhatian begitu tinggi dari masyarakat, termasuk mendatangkan sponsor.

"Dan saya rasa federasi pun turut menikmati hasil dari dua jilid Tur Nusantara, yang punya nilai jual tinggi dari hak siar stasiun televisi."

Terakhir Taufik berharap, manajemen timnas U-19 ke depan dapat berkaca dari pengalaman, termasuk jangan sampai sebuah timnas kerap dijadikan "sirkus".

Piala Asia U-19 berikutnya digelar tahun 2016. Turnamen ini adalah jembatan menuju Piala Dunia U-20.

Indra sendiri telah memberikan reaksinya kepada publik mengenai pemecatan dirinya itu. Ia mengaku tidak kecewa dan merasakan kepuasan tersendiri karena telah menyumbangkan prestasi untuk timnas yang ia asuh itu.

(a2s/cas)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads