Seperti halnya semifinal, pertandingan puncak kompetisi Indonesia Super League (ISL) akhirnya tidak jadi dihelat di Jakarta melainkan Palembang. Apa alasannya?
Sejak awal otoritas liga merencanakan tiga partai terakhir ISL itu digelar di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Namun, semua rencana itu tidak ada yang terwujud.
Saat mengumumkan bahwa semifinal dipindah ke Palembang, Sekretaris PT. LI, Tigor Shalom Boboy, mengatakan alasannya semata-mata faktor keamanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alasan yang sama menjadi penyebab final pun tidak dilangsungkan di ibukota, meskipun dua kontestannya, Persib Bandung dan Persipura, secara sejarah tidak punya rivalitas yang "panas".
"Tentu kami kecewa. Kami promosi ke tim-tim Eropa untuk main di Jakarta. Tapi dengan adanya perubahan ini secara tidak langsung jadi menggambarkan Jakarta sebagai kota yang tidak aman. Ini promosi yang buruk," ucap Ketua Umum PSSI Djohar Arifin ketika ditemui di Kantor Kemenpora, Jakarta, Kamis (6/11) pagi.
"SUGBK tidak ada masalah, justru izin dari kepolisian yang tidak dapat. Alasannya karena dikhawatirkan ada keributan," sahutnya, tanpa menjelaskan lebih rinci potensi "keributan" yang dimaksud.
Djohar sendiri datang ke kantor Kemenpora untuk menyampaikan perubahan undangan terkait final ISL di Palembang tersebut. Tiba pukul 10:35 WIB, ia yang mengenakan batik biru datang sendiri dan bergegas menuju ruangan Kemenpora.
"Saya ke sini (Kantor Kemenpora) untuk mengajukan perubahan tempat. Kemarin saat kami datang, undangannya 'kan seharusnya ke final di GBK, tapi berubah jadi di Palembang," tukasnya.
(mcy/a2s)










































