Tidak Ada Bonek di Negeri Singa

Catatan Bola Dari Singapura

Tidak Ada Bonek di Negeri Singa

- Sepakbola
Senin, 17 Jan 2005 10:00 WIB
Tidak Ada Bonek di Negeri Singa
Singapura - Jam menunjukan pukul 14.05, Minggu (16/1/2005) ketika saya tiba di stasiun Kallang -- Stasiun subwaynya Singapura yang populer disebut MRT. Ratusan anak-anak muda berkaos merah juga turun dari kereta. Di jalanan di sekitar stasiun pun pemandangan sudah memerah. Jarak stasiun dengan Stadion Nasional Singapura hanyalah sekitar 850 meter. Mereka, para anak muda berkaos merah itu tak lain adalah suporter kesebelasan Singapura yang akan berlaga melawan Indonesia memperebutkan Piala Tiger. Pertandingan bergengsi di kawasan Asean itu akan digelar para pukul 19.30 waktu Singapura. Seperti juga di Indonesia, pada event-event bola yang penting,penonton pun sudah mulai berdatangan lebih awal. Yang sangat jauh membedakan adalah suasananya. Betapa tidak! Sekitar 50 ribuan warga Singapura, secara serempak, berbondong-bondong menuju Stadion Nasional. Namun, jalanan tetap lancar. Jauh dari kemacetan.Jangan harap Anda bertemu dengan bonek alias suporter ala bondo nekad-nya Surabaya. Sori. Tidak ada! Kedai makan yang terletak di beberapa ruas jalanmenuju Stadion Nasional Singapura tetap buka seperti biasa. Para suporter Tim Singa terlihat asyik masyuk mengisi perut. Tentu aja mereka membayar. Sekali melihat mereka, sepertinya memang tak dan tak akan punya jiwa bonek.Melihat dan merasakan suasana yang tenang itu, saya menjadi teringat ketika saya beberapa waktu lalu ke Surabaya. Petugas Hotel JW Marriott Surabaya mengingatkan saya agar tidak pergi ke kawasan Stadion Tambaksari. Waktu itu jam baru menunjukan pukul 13.00 wib. Celaka! Padahal rumah mertua yang hendak saya kunjungi, lokasinya hanya sekitar 1 kilometer dari Stadion Tambaksari. "Kenapa?" "Persebaya akan bertanding melawan Lamongan," kata sang petugas. "Jalan-jalan menuju Tambaksari sudah ditutup. Bonek-bonek-nyaribuan pak. Gawatlah," tambah pak petugas hotel tersebut. Tak lama kemudian, telepon seluler saya berdering. Adik saya yang tinggal di gang sebelahTambaksari juga mengingatkan, agar saya tidak bertandang ke rumahnya. "Saya sekeluarga mengungsi. Malam sehabis bola baru pulang," katanya.Okelah. Saya sepakat. Namun iseng-iseng saya pergi juga dengan menunggang taksi. Di kawasan Blauran yang banyak toko emasnya, sudah memilih tutup lebih awal. Warung-warung rokok di seputar Wijayakusuma juga tutup. Ruas-ruas jalan yang mengarah Stadion Tambaksari juga lengang. Taksi yang saya tumpangi distop polisi di selepas Jl. Pacar. "Jangan nekat menuju Tambaksari, kalau kaca sampeyan tak mau pecah," kata pak polisi. "Bukannya melindungi malah menakuti," pikir saya dalam hati. "Beginilah pak kalau Persebaya main. Suasana kayak perang aja," kata sopir taksi.Sepakbola, yang harusnya menjadi tontonan rakyat yang merakyat, menjadi hiburan, sekaligus mungkin menjadi tontonan keluarga, nampaknya jauh dari rakyat kebanyakan. Banyak orang Surabaya memilih tinggal di rumah ketimbang berada di jalanan, ketika bonek turun ke jalan menuju stadion Tambaksari. Begitu juga ketika Pesebaya berlaga ke Jakarta, warga Jakarta pun dibuat deg-degan.Ingatan kita belum bisa lepas dari kisah bonek beberapa tahu lalu. Kota-kota yang dilalui kereta api sepanjang Jakarta-Surabaya pernah dibikinnya repot. Barang dagangan di setiap stasiun yang disinggahi kereta yang membawa bonek disikat habis. Tanpa bayar. Belum lagi kasus perusakan perusakan stasiun. Menyedihkan.Penonton bola di Jakarta sedikit lebih bagus. Tapi insiden pelemparan botol, pendobrakan pintu masuk, tetap saja selalu terjadi. Meskipun, kejadian merekamengamuk karena tim kesayangannya kalah, tak lagi terdengar. Bola memang menimbulkan beragam perilaku. Ketika saya berada di London, saya sempat menumpang kereta yang melewati stasiun Charlton. Ketika kereta berhenti,stasiun nampak penuh sekali. Rupanya, mereka adalah pendukung berat kesebelasan Charlton. Ketika mereka memasuki kereta, suasana pun berubah drastis. Bau alkohol terasa menyengat. Semula saya agak kuatir. Maklum, saya di kereta itu bersama istri dan kedua anak saya yang masih kecil. Apalagi, seorang teman wartawan yang tinggal di London sempat mengingatkan, mereka, para suporter itu, seringkali mengamuk di stasiun. Itu kalau kesebelasan kesayangannya keok. Untung, saya dengar dari perbincangan mereka, Charlton barusan menang tanding. Jadi tak ada keberingasan. Aman.Kembali ke Singapura. Begitu memasuki kawasan Stadion Nasional Singapura, saya geleng-geleng kepala. Ribuan pendukung kesebelasan Singapura itu sudah membuat antrean panjang. Pintu masuk stadion memang belum dibuka. Mereka memang bangsa yang sudah terdidik dan terbiasa untuk antre.Lihat saja di stadion, atau di halte-halte bus maupun taksi, di mal, dll. Antre rupanya sudah menjadi bagian dari hidup bangsa Singapura. Warga asing pun dipaksa untuk mengikuti budaya antre itu. Tak heran, orang Indonesia, jika bertandang ke Singapura, menjadi orang yang tertib dalam hal mengantre. Emtah kalau balik ke Jakarta. "Orang kok bisa setertib itu. Padahal tak saya lihat ada polisi," komentar rekan saya, wartawan detikcom, Andi Sururi.Yang juga mengasyikkan, bola benar-benar menjadi tontonan keluarga. Di antara 50 ribuan penonton itu, tak sedikit di antara mereka yang perempuan dan anak-anak. Tak sedikit pula, pasangan orang pacaran yang datang ke stadion. Ketika pertandingan berlangsung, mereka pun tetap dalam koridor tertib. Menyulut mercon atau kembang api, tak ada.Mereka memasuki stadion tanpa pemeriksaan. Tak ada acara penggeledahan. Mereka, para penonton bola itu diizinkan memasuki stadion dengan membawa makanan dan minuman. Sebelum pertandingan dimulai, terlihat mereka semua menyantap bekal yang mereka bawa. Namun jangan berharap mereka kemudian memanfaatkan botol minuman itu untuk main lempar. Aktivitas mereka sepanjang menonton hanyalah tepuk sorak, sembari duduk manis di tribun."Kita bisa belajar dari Singapura," kata Andi Sururi, teman saya itu. "Tak usah muluk-muluk belajar dari kisah sukses Pemerintah Singapura mengelola negaranya. Tapi cukup belajar dari penonton bola Singapura. Belajar dari hal kecil itu saja, bisa menjadi sangat besar manfaatnya bagi bangsa kita," tambah Andi. Teman saya Andi Sururi itu jelas tidak salah. Kerinduan pada apa yang disebut ketertiban, bukanlah monopoli Andi Sururi. Banyak orang Indonesia yang tentunya punya mimpi pada apa yang disebut dengan ketertiban. "Celakanya," kata saya yang kemudian dipotong Andi Sururi. "Celakanya apa?" "Kita ini tak pernah bisa belajar."Keterangan Foto: Suporter cilik kesebelasan Singapura tampak duduk manis (foto: Budiono). (asy/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads