Drama akan tersaji di Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang, Jumat (7/11). Persipura Jayapura dan Persib Bandung akan melakonkan dua babak demi menentukan siapa yang terbaik di Indonesia Super League (ISL) 2014.
Laga belum dimulai, masih ada kesempatan untuk mereka-reka alur dari drama tersebut. Mereka yang sepanjang tahun ini memantau, menikmati dan terhanyut larut di alur liga Indonesia memang punya hak untuk langsung menebak hasil akhirnya. Tapi, ini partai terakhir dari liga yang selalu diliputi ketidakpastian dalam setiap fasenya. Mulai penentuan jadwal kick off pertama di fase penyisihan, babak delapan besar, semifinal hingga final, selalu dibayangi perubahan yang mendadak.
Rasanya, sayang kalau puncaknya tidak kita nikmati secara perlahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Babak Pertama, Kehati-hatian dan Tempo
Memang, "Mutiara Hitam" dikenal memiliki kecepatan yang mengagumkan dari para pemain Papua. Benar, auman "Maung Bandung" di laga-laga sebelumnya kerap diawali dengan memainkan umpan pendek dan terobosan cepat dari winger mereka. Tapi mental di partai final tentu membuat pertandingan akan berbeda.
Tidak pernah bertemunya kedua tim di musim inilah yang membuat laga akan melambat. Pergerakan bola akan penuh kehati-hatian, karena keduanya sama-sama meraba-raba celah mana yang dimiliki lawan.
Hal lain yang membuat kaki-kaki cepat itu berjalan lambat adalah beratnya beban sejarah yang diusung. Persipura ingin memecahkan mitos sejarah Liga Indonesia; tak pernah ada juara bertahan mampu mempertahankan gelarnya. Sementara Persib, ingin melepaskan label βklub yang hanya besar di sejarahβ. Ya, "Pangeran Biru" ini sudah puasa gelar 19 tahun.
Dari situ terlihat, dua tim bermodal kecepatan malah akan sama-sama melambat. Maka tempo yang memegang peranan. Siapa yang mampu mengatur tempo permainan di 45 menit awal ini, dia pengendali tali kekang permainan.
Jika Persib mampu mengatur tempo, maka trio Papua, Titus Bonai, Ian Louis Kabes, dan Boaz Solossa setidaknya bisa diredam. Memancing ketiganya agar tak mengeksplorasi kecepatannya bergantian posisi dan cutting inside? Ya berlama-lamalah dengan bola saat menguasainya. Memainkan possession yang lambat sembari mencari celah.
Pelita Bandung Raya (PBR) di semifinal lalu saja mampu menahan Persipura tanpa gol di 45 menit awal. Persib setidaknya bisa belajar dari saudara sekotanya yang secara fakta sulit mereka kalahkan.
Lantas bagaimana dengan Persipura? Kalau mereka mau melambat, ada celah dari Persib. Tim asuhan Djadjang Nurdjaman ini sepanjang musim hampir tak pernah mau ditekan. Apalagi bermain bertahan. Begitu lawan menguasai bola, tekanan akan langsung dilancarkan dan berusaha merebut bola guna dikirimkan ke depan yang sudah ada Ferdinand Sinaga.
Kalau Persipura mau, mainkan saja tempo. Persib akan terpancing dengan memberi pressing dari satu atau dua pemainnya. Saat inilah koordinasi lini pertahanan mereka berkurang. Untuk main dengan tempo, Robertino Pugliara lebih punya naluri ini. Metu Duaramuri laiknya memilih Lim Jun Sik yang diparkir jika ia bingung karena batasan tiga pemain asing di lapangan.
Pertanyaannya adalah, siapa yang berani bermain melambat duluan? Persipura atau Persib? Atau keduanya sama-sama gengsi karena ogah melambat dengan kecepatan yang mereka miliki?
Babak Kedua, Rotasi
Setelah sama-sama mengantongi kelemahan lawan dari 45 menit awal, strategi di ruang ganti akan menjadi kunci. Hasilnya, tentu akan ada rotasi.
Urusan rotasi, kedua tim sama-sama punya pemain berlabel supersub. Ferinando Pahabol dan Ricki Kayame dari kubu "Merah Hitam", sementara di bench Persib, Atep yang kerap menjadi pahlawan dari bangku cadangan.
Kalau Brasil punya Garrincha dan dijuluki si "Burung Kecil", maka Pahabol adalah "Cendrawasih Mungil". Bukan maksud menyejajarkannya. Tapi dribble Pahabol boleh dibilang Garrincha banget; lompat-lompat pendek, tiba-tiba berlari dan sepersekian detik berhenti.
Dan yang paling layak ditakuti dari Pahabol adalah senyum khasnya. Menyengir! Bola terebut lawan atau tendangannya melebar jauh pun, ia tetap mengeluarkan senyum mautnya itu. Senyum yang kadang terlihat mengejek bek-bek lawan yang saling bertubrukan sendiri karena gocekannya.
Kalau Kayame, dia jago dalam memanfaatkan peluang akibat lengahnya pertahanan lawan. Dia memang tak secepat Boaz atau Pahabol, tapi akurasi tendangan dan ketenangannya dalam memanfaatkan peluang kerap menjadi penentu tiga poin bagi Persipura.
Sementara Atep, ia kerap terlihat menjadi skema pakem cadangan Djadajang Nurdjaman. Dimasukkan kalau Persib buntu dan rata-rata dimasukkan antara menit 55-70. Namun sebenarnya, dapat kita lihat Djadjang memang sengaja menunggu bek sayap lawan lelah karena mengejar Tantan dan Ferdinand di paruh pertama. Atep yang punya kecepatan dan tenaga lebih banyak, punya tugas mudah untuk menusuk dan memecah kebuntuan. Yang patut diwaspadai oleh Persipura terkait Atep adalah cannon ball-nya. Jangan beri ia ruang tembak meskipun dari jarak 30 meter.
***
Kalau alur sudah ketebak, lazimnya kini kita hanya diliputi pertanyaan, βSiapa yang akan menang?β.
Jawabannya? Ya tergantung pilihan di atas tadi. βSiapa pengendali tempo di babak pertama dan cerdik memanfaatkan rotasi di babak kedua, dia pemenang drama final ini. Tanpa perlu menunggu tiga babak cadangan yang sudah disiapkan Laws of the Game.β
===
* Ditulis oleh @panditfootball . Profi lihat di sini
(a2s/roz)











































