Menpora Diminta Jangan Ragu dan Takut dengan Sanksi FIFA

Menpora Diminta Jangan Ragu dan Takut dengan Sanksi FIFA

- Sepakbola
Selasa, 16 Des 2014 13:22 WIB
Jakarta -

Wacana pembentukan Tim Sembilan oleh Kementerian Menteri Pemuda dan Olahraga memunculkan harapan untuk sepakbola nasional yang lebih baik. Menpora pun diminta tak ragu dan tak takut dengan ancaman sanksi FIFA.

Rencana Kemenpora untuk membentuk tim sembilan udah terkemuka sejak pekan lalu. Tujuannya pembentukan tim tersebut adalah mengawasi kinerja PSSI, yang selama ini dinilai tidak berprestasi.

Tim itu nantinya akan terdiri dari sejumlah stakeholder sepakbola, di antaranya, masyakarat (suporter), wartawan, Kemenpora dan PSSI. Meski begitu, hingga saat ini Menpora Imam Nahrawi, masih merahasiakan siapa saja yang masuk dalam anggota tim sembilan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Forum Diskusi Suporter Indonesia (FDSI) menyebut pembentukan Tim Sembilan merupakan langkah awal untuk membenahi sepakbola Indonesia. Diharapkan siapapun yang masuk didalam Tim Sembilan adalah orang-orang yang berintegritas tinggi.

"Saya sangat mendukung Tim Sembilan bentukan Menpora karena ini berarti ada keseriusan dari pihak pemerintah untuk membenahi kondisi persepakbolaaan di Indonesia. Tentu dengan harapan bahwa tim sembilan ini berasal dari orang-orang yang punya integritas tinggi," ungkap Ketua FDSI, Helmi Atmaja.

"Agar nantinya orang-orang yang masuk di dalamnya dapat menghasilkan rekomendasi ampuh bagi Menpora dan PSSI untuk bersama-sama saling berbenah," lanjut dia dalam wawancara dengan detikSport.

Pembentukan tim sembilan itu juga disebutnya jangan sampai memunculkan kekhawatiran sebagai langkah intervensi pemerintah pada PSSI, yang berujung pada jatuhnya sanksi FIFA. Karena memakai uang negara (APBN) maka PSSI harus mau tuduk pada pemerintah.

"PSSI itu mau makan uang APBN yang jelas jelas uang rakyat tapi tidak mau diatur pemerintah, kalau tidak dibekukan lalu mau diapakan lagi organisasi model begitu. Menpora tak perlu ragu dengan jualan PSSI yang dari masa ke masa tidak berubah yaitu menakut akuti masyarakat akan adanya sanksi FIFA. Karena apabila terjalin komunikasi yang baik antara pemerintah dan FIFA, maka mereka pasti akan mengerti," paparnya.

Helmi mencontohkan langkah berani yang diambil Menpora Andi Mallarangeng pada tahun 2011 lalu. Ketika kisruh sepakbola nasional sedang panas-panasnya dia memutuskan untuk tidak lagi mengakui PSSI di bawah kepemimpinan Nurdin Halid dan Nugraha Besoes. Ketika itu seluruh pertandingan Liga Super Indonesia (LSI), Divisi Utama, Divisi I, II, dan III tetap berjalan sebagaimana mestinya dengan supervisi KONI/KOI bersama Pengprov PSSI dan Klub setempat.

"Contoh yang paling sederhana adalah ketika 2011 lalu Presiden SBY membekukan PSSI di bawah kepemimpinan Nurdin Halid lewat tangan Menpora Andi Mallarangeng, gak ada tuh yang namanya sanksi FIFA."

"Kegagalan Timnas U-19 di Myanmar karena pemainnya diperlakukan seperti sirkus, Timnas senior juga gagal di AFF Cup bahkan dipecundangi Filipina, PSSI tidak mau transparan sehingga harus dituntut ke KIP."

"Kasus sepakbola gajah dan terakhir Pemain ISL yang belum digaji tapi timnya bisa mengontrak pemain pemain bintang untuk kompetisi musim depan. Itu semua sedikit dari contoh bahwa sepakbola kita tidak sedang baik baik saja dan Menpora wajib untuk turun tangan membenahi itu semua," paparnya.

(ads/din)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads