Tim Sembilan Tegaskan Misi Perbaikan dan Character Building

Tim Sembilan Tegaskan Misi Perbaikan dan Character Building

- Sepakbola
Senin, 05 Jan 2015 19:02 WIB
Jakarta - Tim Sembilan punya tugas cukup berat untuk membenahi olahraga Indonesia, terkhusus sepakbola. Koordinator tim, Oegroseno, mengatakan akan segera menyusun agenda untuk penyelesaiannya.

β€œKita buka saja forumnya. Presiden saja sudah mulai terbuka, Ketua KPK bicara terbuka, kenapa kita takut? Bukan masalah apa ini sepakbola, jadi transparan saja. Masak kalah sama Eropa, Amerika, China, Jepang? Mereka saja bisa maju seperti itu, pasti ada suatu masalah,” kata Oegroseno kepada wartawan seusai rapat pertama Tim Sembilan di kantor Kemenpora, Jakarta, Senin (5/1/2015).

β€œMakanya, nanti agendanya kita susun. Kita semua di sini, kalau ada yang mau berdialog, silakan. Dengan begitu Menpora bisa ambil kebijakan. Misalnya sepakbola gajah, ini harus diselesaikan. Kalau suporter lempar-lemparan kok jadi ribut, tapi kalau sepakbola gajah orang gak ribut, kenapa?”

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di hari pertama Tim Sembilan "bergerak", di kantor PSSI ada mosi tidak percaya dari forum Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI. Mereka menilai Menpora Imam Nahrawi ingin melakukan intervensi pada PSSI, dan oleh karena itu dianggap tidak qualified.

β€œKalau mau asprov mau bertemu gak apa-apa, silakan tidak masalah. Kalau kacamata profesi kita, kita ingin ada perbaikan yang bagus. Jadi tidak ada masalah oh nanti saya berurusan sama polisi, itu tidak. Ini demi kepentingan negara," sahut Oegroseno yang adalah mantan Wakapolri RI itu.

Hal yang sama diungkapkan, anggota Tim Sembilan lainnya. Imam B. Prasodjo. Ia mengatakan, fokus dari Tim Sembilan adalah membangun karakter.

β€œFokus yang disepakati oleh kita adalah ingin membangun sebuah karakter, di mana semua aktivitas olahraga yang satu adalah dengan membangun character building dan national building yang mengedepankan sportivitas. Tim ini filosofinya adalah bagaimana menata aktivitas secara sportif, bermoral, karakter tanggung jawab yang ditata sedemikian rupa,” papar sosiolog dari Universitas Indonesia itu.

(mcy/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads