Demikian rencana yang diungkapkan Gatot S. Dewa Broto. Anggota Tim Sembilan itu tidak menyebut mulai kapan klub harus memiliki jaminan bank, namun langkah tersebut diyakininya akan bisa menghindari terjadinya penunggakan gaji pemain.
"Kami (Tim Sembilan) punya gagasan yang kurang lebih isinya jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek untuk mengendorse apa yang dilakukan oleh BOPI dan didukung oleh APPI. Jangka panjangnya lebih ketat lagi, βjadi nanti kami akan minta semacam jaminan bank kepada setiap klub," ungkap Gatot di sela rapat Tim Sembilan, BOPI, APPI, dan FDSI di Kantor Kemenpora, Senayan, Rabu (4/2/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seperti misalnya, kami ada tender. Tender itu perlu ada jaminan bank, bila perusahaan gagal melaksanakan maka jaminan akan kami cairkan. Begitu dengan klub. Jadi tidak ada cerita lagi soal tunggakan pada kompetisi selanjutnya," kata Gatot.
"Ini sangat diperlukan karena kami sudah berpikir dan berdasar dari kondisi tahun ke tahun. Kalau toleransinya diberikan terlalu besar seperti kemarin masalah tunggakan gaji pemain akan muncul-muncul terus. Seakan-akan tidak ada kedewasaan dari pihak klub. Pihak klub juga berpikir, ya, sudahlah pemerintah pasti bisa diajak cincai. Kami tidak ingin seperti itu," paparnya.
"Ya, memang dampaknya mungkin kepada pemain. Makanya tadi kami juga minta pihak APPI untuk melakukan edukasi. Karena ini pun atas dorongan atas pihak APPI itu sendiri yang meminta jaminan untuk masalah tunggakan gaji pemain tidak terjadi lagi," tambahnya.
"Intinya jaminan bank ini upaya mencegah supaya jangan sampai sejumlah klub itu bisa mengontrak pemain asing, atau pemain lainnya, lalu mengikutsertakan mereka dalam kompetisi tapi ternyata dananya cekak banget. Jadi penting untuk klub bisa punya jaminan bank. Supaya tidak ada cerita lagi soal klub gagal bayar atau menunggak," katanya.
(mcy/din)











































