Semua orang Indonesia tahu, Papua merupakan salah satu penghasil pemain-pemain sepakbola berbakat. Tinggal bagaimana memoles mereka agar bakat itu menjadi pualam yang lebih berharga.
Matahari sudah menyengat kulit meski jam baru menunjukkan angka 9. Maklum, dekat laut. Di sebuah lapangan kampung di kawasan Hamadi, Jayapura, puluhan remaja bersimbah peluh, saling bertarung memperebutkan bola, mencari gawang lawan untuk dijebol. Di pinggir lapangan, "disaksikan" dua bukit yang memantau dari atas, para pelatih berteriak-teriak memberi instruksi pada anak-anak asuhnya.
Hari ini (4/4/2015), sampai besok, digelar ajang pencarian bakat bertajuk CLEAR Ayo! Indonesia Bisa Academy, tahap Province Round seri Papua. Sebanyak 16 Sekolah Sepak Bola (SSB) yang telah lolos seleksi di fase sebelumnya, saling adu terampil untuk menjadi yang terbaik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Keunggulan anak-anak Papua terutama pada fisik. Mereka umumnya punya postur yang kuat, kecepatan yang bagus. Spirit mereka dalam bermain juga sangat menonjol," ujar Coach Zaenal kepada detiksport, di sela-sela tugasnya menjadi scout.
"Hanya saja, mereka belum baik dalam pengorganisasian tim, bagaimana bermain dengan efektif sebagai sebuah tim. Kamu lihat tadi, mereka main ngumpul terus, jarang memanfaatkan lebar lapangan. Anak-anak di sini masih lebih mengandalkan insting, karena mereka memang ditempa oleh alam."
Laut dan gunung memang sahabat orang Papua. Mereka hidup bersama alam, yang melahirkan para lelaki berbadan kuat, dengan otot-otot yang terlatih secara alami. Pemberian Tuhan.
Sepakbola buat anak-anak Papua barangkali juga merupakan sebuah panggilan alam tersendiri. Tak heran jika sangat mudah ditemui sekelompok anak-anak bermain bola di kampung-kampung, di pinggir pantai.

"Di Jayapura ini makin banyak SSB. Sayangnya, fasilitas masih kurang, lapangan dan peralatan. SSB saya punya Kodam, latihan di lapangan mereka. Kalau Kodam ada acara, ya kami tidak bisa latihan, harus cari lapangan lain," ujar Daniel Mauri, pelatih SSB Cendrawasih Gantry.
Fasilitas yang memadai, dan juga pelatih-pelatih yang bagus, masih menjadi pekerjaan rumah yang besar untuk pembinaan sepakbola usia muda di negeri ini, yang katanya sangat menggilai sepakbola dan senantiasa bermimpi suatu saat akan menembus level Asia bahkan dunia.
"Kalau soal bakat, Indonesia ini sangat potensial, termasuk di Papua ini. Hanya saja, ibarat batu akik, baru akan terlihat indah jika digosok, dipoles dengan benar. Sama seperti sepakbola. Makanya, di level usia muda saya selalu menekankan pentingnya menghasilkan juga pelatih-pelatih yang bagus. Karena the best player is the best coach. Pemain terbaik hanya dihasilkan oleh pelatih terbaik," tutur Coach Zaenal.
(a2s/mrp)











































