FIFA Sedang Dilanda Skandal, Masalah Indonesia Diyakini Belum Akan Dibahas

Novitasari Dewi Salusi - Sepakbola
Sabtu, 30 Mei 2015 14:55 WIB
Jakarta - FIFA sedang menjadi sorotan terkait skandal korupsi dan suap yang melibatkan sejumlah pejabatnya. Dengan adanya masalah itu, FIFA diyakini belum akan menjadikan persoalan sepakbola Indonesia sebagai prioritas.

Tujuh orang pejabat tinggi FIFA ditangkap penegak hukum AS yang bekerja sama dengan otoritas Swiss jelang kongres pada hari Rabu (27/5/2015) lalu. Dalam perkembangannya, kemudian ada 14 orang yang didakwa atas kasus suap, korupsi, dan pencucian uang.

Kongres FIFA yang akhirnya tetap dijalankan pada 28-29 Mei lalu tak memasukkan persoalan sepakbola Indonesia ke dalam agenda. Sanksi yang selama ini didengungkan PSSI pun sejauh ini tidak terbukti.

Namun menurut wartawan senior Budiarto Shambazy, sanksi untuk Indonesia masih mungkin dijatuhkan. Tapi karena FIFA sendiri sedang dilanda masalah, persoalan sepakbola Indonesia disebutnya mungin belum akan dibahas dalam waktu dekat.

"FIFA sebetulnya bisa saja menjatuhkan sanksi kalau dalam keadaan normal. Artinya, sanksi bisa diproses, ada perundingan antara FIFA dengan pemerintah kita dan PSSI. Tapi itu masih jauh," ujar Budiarto dalam perbincangan dengan detikSport, Sabtu (30/5/2015).

"FIFA bukannya tidak bisa menjatuhkan sanksi, tapi realitanya FIFA sendiri sedang dalam kondisi babak belur, ada kasus korupsi. FIFA sepertinya tidak mau mengambil langkah yang terlalu drastis, istilahnya 'sok galak' sementara di dalam sudah runtuh."

"Jadi soal sanksi itu disimpan dulu, tidak akan dibahas terlalu buru-buru. Mereka pasti akan terpaku pada pekerjaan untuk membenahi masalah di dalam. Sementara ancaman akan terjadi penangkapan berikutnya makin besar dengan penyidikan pemerintah Amerika Serikat dan Swiss soal bidding Piala Dunia 2018 di Rusia dan Piala Dunia 2022 di Qatar. Ini mengerikan sekali. Maka FIFA makin terpojok dan tidak akan berani 'sok galak' itu tadi."

Kongres FIFA berikutnya akan dilangsungkan di Meksiko pada 12-13 Mei 2016. Kalaupun ada kongres luar biasa, Budiarto yakin FIFA masih belum akan membahas persoalan Indonesia.

"Saya kira tidak. Kalaupun ada sidang, bisa juga kongres luar biasa, tapi FIFA saat ini betul-betul disandera untuk memperbaiki diri," katanya.



(Novitasari Dewi Salusi/Novitasari Dewi Salusi)