sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Kamis, 30 Jul 2015 10:28 WIB

Pemain PSS Sleman Buka-bukaan Soal Sepakbola Gajah

Rifqi Ardita Widianto - detikSport
ist.
Yogyakarta -

Setelah 10 bulan berlalu, sejumlah pemain PSS Sleman yang dihukum karena kasus sepakbola gajah kontra PSIS Semarang di Divisi Utama Liga Indonesia tahun lalu buka suara. Mereka menuntut keadilan dan mengharapkan bantuan Menpora.

Seperti diketahui, tahun lalu Indonesia dihebohkan dengan laga sepakbola gajah antara PSS melawan PSIS dalam babak semifinal Divisi Utama, yang berlangsung di Sasana Krida Akademi Angkatan Udara, Minggu (26/10/2015). Saat itu PSS menang 3-2 atas PSIS, namun menjadi heboh karena lima gol tersebut seluruhnya merupakan gol bunuh diri.

Kabarnya kedua tim berupaya saling mengalah agar tidak menjadi juara grup, yang nantinya akan berhadapan dengan Borneo FC. Borneo FC ini diyakini kerap diuntungkan di tiap laganya dan disebut-sebut sudah dijamin lolos ke ISL.

Pada prosesnya sejumlah nama dijatuhi hukuman dan denda oleh Komisi Disiplin PSSI terkait kejadian ini. Yang paling berat ada yang dihukuman larangan berkecimpung di sepakbola seumur hidup. Mereka adalah Pelatih Heri Kiswanto, ofisial tim Rumadi, Sekretaris Tim Eri Febriyanto, dan tiga pemain yakni Riyana, Agus Setiawan, dan Hermawan Putra Jati.

Asisten Pelatih Edi Broto dihukum larangan bermain selama 10 tahun. Delapan pemain dihukum 5 tahun, yakni Marwan Muhammad, Satrio Aji Saputro, Wahyu Gunawan, Ridwan Awaluddin, Anang Hadisaputra, Eko Setiawan, Mudah Yulianto, Monieaga Baguswardi.

Lima pemain lainnya dihukum 1 tahun dengan masa percobaan 5 tahun, antara lain Christian Adelmund, Waluyo, Saktiawan Sinaga, Guy Junior, dan Gratheo Hadiwinata. Termasuk mendapatkan hukuman ini juga adalah Kitman dan Masseur, Dwi Suyono dan Sunyono.

Sanksi ini disebut sejumlah pemain yang dihukum tak adil. Mereka menegaskan bahwa para pemain di lapangan cuma korban karena mendapatkan instruksi dari manajemen. Sementara Manajer tim Supardjiono yang disebut memberikan perintah, malah melenggang tanpa hukuman.

Supardjiono disebut Komdis tidak berada di lapangan saat kejadian berlangsung. Sebaliknya, para pemain menyebut dia ada di tepi lapangan dan diakui ada instruksi untuk 'menyelamatkan' Supardjiono dari kejadian ini.

Hal itu diungkapkan dalam acara 'Kupas Tuntas Kasus Sepakbola Gajah PSIS Semarang vs PSS Sleman'. Acara ini digelar oleh FDSI (Forum Diskusi Suporter Indonesia) untuk memfasilitasi keinginan sejumlah pemain PSS yang terlibat kasus tersebut.

"Ingin klarifikasi bahwa mereka adalah korban. Ini merupakan kebijakan manajemen tim untuk mengalah. Selama ini kan dibuat seolah-olah improvisasi pemain, karena waktu itu manajernya pulang babak pertama," ujar Ari Wibowo, perwakilan FDSI.

Berikut ini adalah pernyataan empat pemain PSS yang mendapatkan hukuman, terkait insiden sepakbola gajah. Mereka menolak diungkap jadi dirinya dan datang ke acara tersebut dengan menggunakan penutup wajah.

Kenapa baru sekarang buka-bukaan? Harapannya apa?

Pemain 1: Agar kita semua bisa bebas dari sanksi. Ya dulu itu masih takut, serba salah. Keadaannya juga tidak memungkinkan. Itu bukan gol bunuh diri, tapi tidak sengaja. Diinstruksikan oleh Pak Rumadi sama Pak Pardji. Ada instruksi untuk kalah. Untuk saya pribadi, babak pertama selesai dipanggil ke ruang ganti. (Katanya) Tidak bermaksud mengorbankan saya gitu, tapi kalo Anda cetak gol bunuh diri, PSS akan terhindar dari Borneo. Itu yang bilang Pak Rumadi.

Pemain 2: Sudah terlalu lama diam. Kemarin itu serba dikondisikan. Ikut ini-ini, katanya bakal diatasi tapi tidak ada hasil. Sekarang kan kami tidak ada ikatan lagi. Kami ingin ketemu Menpora. Kalau ketemu Menpora, kita siap buka-bukaan live di TV pun siap. Kami ingin jaminan keamanan. Sebelumnya pernah ngirim rekaman omongan kita ke Tim Sembilan, sempat katanya akan dipanggil. Saya sudah siap blak-blakan.

Soal Pak Pardji yang disebut-sebut pergi sebelum laga usai?

Pemain 1: Dia ada. Dia tidak pergi.

Ada briefing sebelum laga? Bagaimana instruksinya?

Pemain 1: Tidak ada. Yang dipanggil cuma saya. Tapi saat itu saya terus menolak. Itu bukan keinginan hati saya. Tapi setelah beberapa teman mendorong saya tetap tidak mau, Pak Pardji ini manggil saya ke samping lapangan. Dengan nada membentak 'Wani ora. Lek wis ndang digolke selak disikiki Semarang (Berani tidak. Ayo segera digolkan keburu didului Semarang)'. Ya saya dengan emosi, tidak bermaksud mencetak gol itu. Saya kaget dikasih bola, saya backpass, bola tidak diambil, masuk. Saya dipanggil ke tepi di menit 70-an. Di ruang ganti hanya ada Pak Pardji dan Pak Rumadi. Yang saya tahu instruksi untuk saya sendiri, kalau lainnya mohon maaf saya gak tau.

Pemain 2: Tidak direncanakan. Semuanya seperti biasa. Awalnya pagi ya latihan, siang dipanggil ke ruang pelatih, siapa-siapa yang akan main nantinya. Lalu sebelum bertanding, Pak Pardji bilang 'Kalau kalian ingin ke ISL jangan sampai ketemu Borneo. Saya baru ditelepon Vigit (Waluyo).'

Soal kejadian?

Pemain 2: Kita di lapangan serba bingung waktu itu. Waktu jeda, Pak Rumadi bilang ini tidak bisa begini. Terus dia bilang babak kedua kita fight, ternyata maksudnya fight untuk kalah.

Pemain 3: Sempat minta dihentikan (ke wasit). Ini pertandingan apa, tolong lah.

Pemain 4: Waktu itu saya pengen main biasa. Saya melakukan pressing ke pemain lawan, tapi dua kali diteriaki 'Mundur!' Tidak boleh nge-press.

Setelah laga bagaimana?

Pemain 1: Tidak ada apa-apa. Saya frustrasi, merasa bersalah, menyesal. Dijamin sama manajemen, gak ada apa-apa. Kamu tenang, semua manajemen tanggung jawab. Tahu-tahu heboh.

Buka ini karena tidak rela Pak Pardji lolos?

Pemain 1: Bukannya tidak rela. Ya saya menuntut keadilan. Saya korban. Bukan sepantasnya saya dihukum.

Soal Borneo, kenapa menghindari:

Pemain 2: Soal Borneo malah belum tahu gimana. Cuma tahu satu dua pemain, tapi soal permainan tidak tahu.

Pemain 4: Kalau yang sudah-sudah, Borneo main itu selalu dapat penalti. Jadi itulah kita mikir-mikir soal non teknis nantinya.

Soal pemanggilan komdis?

Pemain 1: Sudah diskenario untuk tidak terus terang. Oleh beliau-beliau (Rumadi dan Pardji). Saya tidak tahu kalo soal Pak Pardji alasan pergi di pertandingan. Yang jelas sebelum sidang Komdis kita sudah dikondisikan, untuk tidak mengaku. Ya sudah, saya merasa takut. Mau ini takut, itu takut akhirnya tidak terus terang. Diam. Tidak mengaku ada yang menyuruh. Saat itu dipanggil ramai-ramai, tidak ada tanya jawab personal. Ada empat pemain, pelatih, termasuk Pak Pardji dan Pak Rumadi. Ketemu Komdis cuma satu kali, habis kejadian itu. Tidak lama, tidak sampai satu jam. Cuma tanya jawab, siapa yang menyuruh? Gimana perasaannya, ya saya menyesal, saya tidak berniat cetak gol bunuh diri. Ada dua kloter yang dipanggil, saya kloter pertama. Untuk yang kedua saya tidak tahu karena tidak ikut.

Pemain 2: Sampai Jakarta masuk bareng 6-7 orang. Sebelum masuk, dibilang kalau ditanya jangan ngaku yang memberi perintah siapa. Kita bilangnya Pardji itu Ableh (Eri Febrianto - Sekretaris Tim). Padahal Ableh ada di Martapura untuk mengawasi pertandingan Martapura.

Pemain 3: Pak Rumadi minta bilang bahwa yang di lapangan bukan Pardji, tapi Ableh.

Soal bantuan hukum dari manajemen? Situasi saat ini?

Pemain 1: Udah ada, tapi tidak ada hasil. Sedih sekali, padahal saya masih sangat muda. Umur saya 22 tahun. Sebelumnya tidak pernah ada instruksi seperti itu. Kita berlatih serius untuk jadi pemain hebat, tidak untuk cetak gol ke gawang sendiri. Intinya saya minta keadilan, untuk bebas dari sanksi. Karena main bola mata pencaharian saya.

Soal Menpora?

Pemain 1: Kita menunggu dari beliau-beliau. Untuk kejelasan ke depannya. Tapi kan terus menunggu, tidak tahu kejelasannya. Jadi tujuan saya ke sini minta keadilan. Saat ini tidak ada aktivitas, tidak ada penghasilan.

Soal pelatih? Termasuk yang memberikan instruksi?

Pemain 1: Saya tidak tahu karena konsen main. Dia korban juga, kita semua korban.

Pemain 2: Menit 60-an pelatih tidak ada. Edi Broto (Asisten pelatih) yang mengarahkan, lalu memberi kode (cetak gol bunuh diri) dengan membalik topi.

Pemain 3: Sama sekali tidak ada instruksi (mengalah) dari pelatih. Dia korban juga, bahkan sampai nangis karena melihat seperti itu.

Pemain 4: Dia saat itu ke ruang ganti, sholat (sebelum pertandingan usai). Di tepi lapangan itu Pak Rumadi, Pak Pardji, dan Edi.

Ada ancaman kalau tidak mencetak gol bunuh diri?

Pemain 1: Tidak ada.





(raw/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com