RD: Gaji Tentara Tidak Sebesar Sepakbola, tapi Aman Seumur Hidup

Dari Lapangan Hijau ke Barak Tentara

RD: Gaji Tentara Tidak Sebesar Sepakbola, tapi Aman Seumur Hidup

Mercy Raya - Sepakbola
Selasa, 08 Sep 2015 15:14 WIB
RD: Gaji Tentara Tidak Sebesar Sepakbola, tapi Aman Seumur Hidup
detikSport
Jakarta -

Rahmad Darmawan memaklumi keputusan banyak pemain yang ikut pendidikan tentara karena industri sepakbola yang tak kunjung memberi jaminan masa depan. Meski tidak wah secara finansial, jadi tentara disebutnya memberi jaminan seumur hidup.

"Mereka (pemain) tentu terkejut dengan penghentian kompetisi yang mendadak itu. Sehingga mereka berpikir tentang masa depan yang pasti dan menjanjikan, walaupun dari segi finansial tidak se-wah ketika main bola. Tapi itu bisa dia dapatkan seumur hidup. Dan menurut saya dengan kondisi ini, Indonesia tidak salah," kata Rahmad.

Ada tujuh mantan penggawa timnas memutuskan ikut pendidikan tentara. Keputusan tersebut diambil Ravi Murdianto, Manahati Lestusen, Dimas Drajad, M Abduh Lestaluhu, Wawan Febriyanto, Ahmad Noviandani, dan Teguh Amirudin dalam kondisi kompetisi sepakbola di Indonesia terhenti. Sejak PSSI dibekukan Menpora pada 17 April lalu, dan FIFA menjatuhkan sanksi, nasib kompetisi domestik Indonesia masih jadi tanda tanya besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"β€ŽKita tahu, bahwa Indonesia lagi terus mencoba belajar menjadikan sepakbola sebagai industri, memang ada beberapa kekurangan. Makanya ketika ada satu pilihan, yang akhirnya membuat pemain mengambil kesempatan untuk memastikan β€Žmasa depannya. Saya pikir itu baik," lanjutnya dalam perbincangan dengan detikSport.

RD sendiri punya latar belakang tentara. Di tahun 1990 dia dapat tawaran masuk PS ABRI. Pria kelahiran 26 November 1966 itu masuk sekolah perwira militer wajib di Matra Laut, dia kini berpangkat Kapten Angkatan Laut.

Pemain memutuskan menjadi tentara disebutnya bukanlah hal yang luar biasa. Di tahun 90-an (era perserikatan), sepakbola disebutnya belum bisa dijadikan sebagai sandaran hidup, bahkan untuk sebuah profesi. Karenanya banyak pemain yang double job.

"Saya sendiri pernah menjadi karyawan bank, sebelum masuk menjadi militer. Karena saat itu sepakbola belum membuat kami menjadi sandaran untuk profesi kita," ungkap RD.

"Nah, dengan β€Žkondisi saat ini, naik turunnya sepakbola Indonesia dan dihentikan kompetisi tahun ini, tentu puncak dari keputusan pemain adalah membuat langkah untuk berkarier menjadi TNI," ujarnya.

Dengan banyak penggawa timnas masuk TNI, RD menyebut ke depannya mungkin saja TNI membentuk tim sendiri dan ikut bersaing dengan klub-klub profesional. Di beberapa negara, tentara disebutnya punya peran aktif dalam membangun sepakbola nasional.

"Contohnya saja, saya di Malaysia dengan tim angkatan Malaysia tahun 1992-1993, saya main sebagai pemain profesional di klub tentara. Pemainnya itu campur ada tentara dan ada sipil. Karena itu bagian daripada komunikasi sisi militer," ungkapnya.

Kondisi tersebut terus terjadi sampai sekarang. Thailand, Myanmar, dan Malaysia yang punya tim tentara, bahkan ikut kompetisi liga masing-masing.

"Tentu saja saya berharap suatu saat TNI punya pandangan tentang β€Žpembangunan sepakbola dengan ikut kompetisi. Apalagi materi TNI sekarang bagus-bagus. Sayang kalau tidak dimaksimalkan menjadi klub."

"Memang idealnya satu orang itu cukup menjadi profesional dari satu profesi saja. Misalnya pesepakbola ya sudah main bola saja. Sebetulnya itu yang paling ideal. Tapi di militer ini, orang yang berprestasi diberikan sedikit kemudahan. Contoh, instansi saya berjalan baik karena memang pertama, tentu harus selalu menjaga nama baik TNI ketika main di luar. Ini penting artinya karena pimpinan sudah mengizinkan kita atau tidak bermain di luar. Atau melatih di luar. Sehingga penting untuk menjaga citra TNI. Karena bagaimana pun sejak dwifungsi ARBI tidak ada, memang pendekatan yang ideal adalah pendekatan dengan pembinaan dan pembangunan olahraga bersama," papar RD.

Ia juga meyakinkan bahwa dengan menjalan dua profesi, di militer dan sepakbola, tidak sesulit yang dibayangkan.

"Seperti yang saya katakan, TNI memberikan kemudahan bagi pemain-pemain yang berprestasi. Kalau seandainya pemain untuk tim Super League yang membela nasional atau internasional tentu akan diizinkan,"

"Contoh: Made Wirahadi itu anggota polisi (Dia masih di klub Persiba Balikpapan) Agung (pemain Persebaya), lalu saya anggota TNI, saya diberi kemudahan untuk melatih dengan tim-tim lain. Artinya kalau kita bisa menjaga sebagai prajurit TNI tentu pimpinan akan memberi respons yang positif. Sekali lagi, pemain jangan melupakan bahwa dia adalah prajurit TNI."

Begitu juga dengan pemain Persija yang saat ini memutuskan untuk menjadi tentara. Rahmad mempersilakan dan membuka pintu selebar-lebarnya jika ingin kembali lagi ke Persija.

"Kalau memang dia ingin menjatuhkan putusan bermain dengan Persija, silakan. Tidak ada masalah. Selama ini tidak ada larangan. Karena ada juga kiper Persija (Rexy) yang menjadi anggota TNI AL, dan tidak ada masalah."

"β€ŽSekali lagi selama tindakan-tindakan positif dan memberikan output baik dengan mewakali TNI saya rasa pimpinan akan memberi kemudahan," pungkasnya.

(mcy/din)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads