Kinerja Tim Transisi Dinilai Lambat, Menpora Diminta Segera Bertindak

Kinerja Tim Transisi Dinilai Lambat, Menpora Diminta Segera Bertindak

Amalia Dwi Septi - Sepakbola
Kamis, 10 Sep 2015 15:33 WIB
Jakarta - Setelah dibentuk Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bulan April lalu, tim transisi dinilai belum bekerja sesuai harapan. Menpora pun diharapkan segera turun tangan.

Demikian opini pengamat sepakbola Akmal Marhali yang menilai kinerja tim transisi selama ini sangat lambat. Padahal tim transisi diembani tugas penting yakni memperbaiki tata kelola sepakbola nasional setelah PSSI dibekukan oleh pemerintah.

Sejauh ini kerja nyata tim transisi adalah membuat turnamen bernama Piala Kemerdekaan yang diikuti oleh klub-klub Divisi Utama, walaupun awalnya diharapkan dapat merangkul seluruh anggota PSSI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Akmal, tim transisi terlalu sibuk mengurus turnamennya tanpa memikirkan tugas pokok mereka yaitu menyelenggarakan KLB, membentuk federasi baru, melakukan komunikasi dengan FIFA, dan mendekati voter-voter PSSI.

Walhasil, belum ada hasil kongret dari tim yang dibentuk oleh Menpora Imam Nahrawi itu. "Tim transisi terlalu sibuk bikin turnamen sehingga melupakan tugas pokoknya menggelar KLB/membentuk federasi baru. Tim Transisi tak mampu membuka jalur efektif komunikasi dengan FIFA sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di sepakbola. Tim transisi juga tidak mampu merangkul voter," ungkap Akmal.

Dia menilai harapan masyakarat kepada tim transisi yang mengklaim bakal memperbaiki sepakbola Indonesia justru tak terlihat. Contoh kecilnya adalah turnamen Piala Kemerdekaan yang masih jauh dari kata profesional.

"Turnamen yang dibuat bukan mengangkat citra tim transisi, malah menjatuhkan. Keterlambatan match fee maupun penegakan rules of the games. So, masyarakat yang dulunya meletakkan harapan kini berbalik justru memberikan kritikan terkait ketidakmampuan mereka untuk perbaikan tata kelola sepakbola Indonesia," ucapnya.

Waktu sekian bulan usai tim transisi dibentuk, sebut Akmal, sepantasnya cukup untuk menyukseskan visi dan misi reformasi sepakbola nasional. "Mulai dari KLB, pembenahan tata kelola sepakbola dan aturan kompetisi profesional maupun perang terhadap match fixing. Baru setelah itu ke langkah terakhir menggelar kompetisi profesional yang lebih baik. Tapi faktanya piramidanya dibuat terbalik."

Maka dia pun mengimbau Menpora dan pemerintah agar segera mengambil sikap terkait lambatnya kinerja tim transisi. Jika tidak maka niat Menpora mereformasi sepakbola akan antiklimaks. Bahkan, Akmal menyarankan agar susunan tim transisi diganti saja.

"Misi reformasi bisa back fire kalau menpora dan pemerintah tak segera menggambil sikap terkait lambannya kinerja tim transisi. Bisa jadi semua antiklimaks bila tak segera kembali ke tugas dan visi utamanya. Saran saya: reorganize tim transisi. Yang tak efektif diganti. Dan diberi tenggat waktu agar visi misi reformasi jadi terukur, tepat sasaran, dan bernilai," ujarnya.

"Bila Menpora tidak cepat tanggap dengan mengambil langkah cepat, bukan mustahil cita-cita reformasi sepakbola yang mulia ini berubah menjadi dosa/cacat dalam kariernya," tutur Akmal.



(ads/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads