Piala Kemerdekaan selesai dihelat akhir pekan lalu, yang menghasilkan PSMS Medan sebagai juara. Keberhasilan 'Ayam Kinantan' itu tak dibarengi sukses penyelenggaraan ajang gelaran Tim Transisi itu.
Kemenangan PSMS atas Persinga Ngawi dengan skor 2-1 dalam laga yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Minggu (13/9/2015), menandai usainya perhelatan Piala Kemerdekaan.
Kendati demikian, sampai saat ini masih ada beberapa klub yang mengaku belum dibayarkan match fee-nya. Bahkan, untuk hadiah saja mereka masih menunggu proses transfernya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria yang biasa disapa Anto itu melihat turnamen yang digelar Tim Transisi terkesan persiapanya dipaksakan. Dampaknya pun cukup dirasakan timnya kala tengah bertanding.
"Yang kami rasakan memang seperti itu. Panitia dan Tim Transisi seperti kurang persiapan. Skill wasit masih terlihat ada yang kurang, dalam pelaksanaannya antara EO dengan panitia lokal juga masih kurang sesuai," kata Anto kepada detikSport, melalui sambungan telepon, Selasa (15/9).
Persoalan lainnya tentu match fee sebesar Rp 75 juta dan hadiah yang harusnya didapatkan timnya saat menjadi runner up Piala Kemerdekaan sebesar Rp 1 miliar, yang ternyata belum mereka terima.
"Belum. Mereka (Tim Transisi) menjanjikan kepada kami akan dibayarkan pekan ini," ungkap Anto.
"Harapan kami tentu setelah turnamen ini match fee dan hadiah sudah ada kejelasan. Supaya motivasi kami dan anak-anak pada saat dibangun waktu ikut turnamen ini bisa sesuai," lanjutnya.
Dikatakan dia, sejauh ini pihaknya menalangi dulu apa yang menjadi kebutuhan pemain, sambil menunggu match fee itu dibayarkan.
"Kami masih menalangi dulu yang babak delapan besar. Sementara untuk akomodasi dan transportasi cukup aman. Panitia antarjemput dari Ngawi sampai ke Ngawi lagi, penginapan dan makannya," terangnya.
Sementara soal lainnya paling hanya kesiapan teknis yang berkaitan dengan penyelenggaraan di fase penyisihan grup.
"Kami kan ada dua lokasi yaitu Bantul dan Solo. Kalau bisa ke depannya hanya satu saja. lebih simple apalagi format permainan itu padat. Dua hari di Bantul dan dua hari di Solo. Jadi baiknya ke depan hanya satu home saja," saran Anto.
Anto pun berharap agar persoalan ini tidak berlarut lama. "Harus ada pematangan terhadap satu persiapan supaya kewajiban-kewajiban yang memang harus dibayarkan panitia dan Tim Transisi sudah siap semua. Artinya tidak ada yang mengganjal bagi klub dan panitia ketika turnamen sudah selesai. Jangan juga seperti terkesan waktunya dipaksakan. Jadi harus lebih siap semua."
"Harapan lainnya tentu saja jangan sampai berhenti di level turnamen saja. Artinya kalau turnamen kan hanya murni lomba, pertandingan saja. Sementara untuk pembinaan kan lebih bagus di level kompetisi agar program pembinaan kami juga tidak berhenti di sini," pungkas dia.
(mcy/cas)











































